Afghanistan, Islam Radikal, dan Nick Danziger

 Monday, October 20, 2008

Judul postingan kali ini mungkin kelewat 'wah'... Sebetulnya saya baru saja membaca kisah sejati tentang seorang wartawan foto kenamaan asal Inggris, Nick Danziger yang mengadopsi anak-anak korban perang dari Afghanistan. Kisah tsb. saya baca dari majalah Femina edisi tahun 1999...

Dulu, Ibu saya berlangganan Femina sejak tahun 80-an hingga akhirnya berhenti berlangganan tahun 2003an.. Dan kami masih menyimpan tumpukan sisa-sisa majalah Femina yang tak kami jual atau berikan pada orang lain.. Biasanya kami membacanya kembali di saat-saat luang atau bahkan tidak sama sekali..

Dan, kisah sejati tentang pria Inggris yang mengadopsi tiga bocah malang asal Afghanistan ini sebetulnya bukan yang pertama kalinya saya baca. Hanya saja kali ini koq ada 'perhatian' lebih... Mungkin karena ingatan akan carut marutnya Afghanistan melekat cukup dalam setelah membaca novel "The Kite Runner" belum lama ini; Perang saudara, terorisme, ledakan bom dan senjata api di mana-mana, kemiskinan, kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, fanatisme yang buta.. hmm.. Itulah beberapa kelumit cerita pahit tentang Afghanistan yang selama ini saya tahu baik dari novel, film, atau pun berita dari media massa.





Kembali saya hanyut dalam kisah pilu dari Afghanistan lewat kisah sejati Nick Danziger yang dikisahkan kembali oleh majalah Femina itu..

Sebagai wartawan foto, Nick Danziger telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk keliling dunia memotret berbagai kejadian penting dari segala penjuru. Tak tanggung-tanggung, tanah yang penuh dengan konflik peperangan pun ia jejaki, salah satunya Afghanistan.

Saat bertugas di tanah persembunyian Osama bin Laden itulah, Nick bertemu dengan tiga bocah malang asal setempat. Mereka adalah kakak beradik Khadija dan Farishta, serta seorang anak lelaki bernama Satar. Khadija dan Farishta adalah penghuni rumah penampungan anak-anak yatim piatu di Kabul. Kondisi penampungan itu amat memprihatinkan. Bersama 14 anak lain yang usianya antara 2 sampai 12 tahun, mereka hidup berhimpitan di ruangan kecil itu. Kekurangan makanan dan obat-obatan. Di negeri yang sedang bergejolak karena peperangan itu juga lah mereka menghabiskan waktunya dalam ketakutan.

Khadija dan Farishta harus berhenti sekolah saat mereka menginjak usia 8 tahun, hanya karena mereka berjenis kelamin perempuan. Sedangkan Satar tak bersekolah karena ia cacat folio.

Pertama kali Nick bertemu Khadija dan Farishta tahun 1989. Waktu itu Khadija masih berusia 4 tahun dan Farishta 2,5 tahun.

Tahun 1990, ketika Presiden Najibullah didukung Sovyet yang sedang berkuasa, Nick sempat membuat rumah singgah (dibantu Palang Merah Norwegia, Dalai Lama, dan Putri Sadruddin Aga Khan, serta masyarakat internasional yang terketuk hatinya) sebagai tempat tinggal anak-anak yatim piatu. Nick mengusahakan sedemikian rupa agar rumah tersebut aman bagi anak-anak malang itu, karena peperangan di luar sana begitu menakutkan. Barulah Satar kemudian datang ke rumah tsb. diantar oleh seseorang. Satar telah ditelantarkan ayahnya karena cacat, dan ibunya meninggal ketika melahirkan adiknya.

Saat tak sedang bertugas Nick selalu kembali mengunjungi Afghanistan. Meski lahir dan berkantor di Inggris, Nick yang saat itu masih lajang sesungguhnya tak memiliki rumah di tanah kelahirannya itu. Setiap cuti, ia pun terbang ke Afghanistan mengunjungi anak-anak malang itu. Nick berusaha mencarikan orang tua asuh bagi mereka. Dan satu demi satu, anak-anak itu pun mendapatkan orang tua asuh.. kecuali Khadija, Farishta dan Satar. Mereka seperti anak-anak yang tak diinginkan. Pada akhirnya Nick pun berhenti mencarikan orang tua asuh bagi mereka. Ia memutuskan untuk mengurusnya sendiri ditemani beberapa temannya dari Palang Merah Inggris.





Tahun pertama Nick hidup bersama ketiga anak itu, tak pernah terbayangkan olehnya suatu hari nanti ia akan mengadopsi mereka dan membawanya keluar dari Afghanistan. Nick adalah seorang nomaden, ia tak pernah menetap di satu tempat. Dirinya mengaku kurang punya rasa tanggung jawab terhadap orang lain, ia terbiasa hidup sendiri. Waktunya habis di luar negeri dan di atas pesawat terbang. Baru saja tiba di Kabul, ia sudah mendapat tugas ke Paris. Dari Paris, ia mesti terbang ke Kurdhistan, lalu ke Guatemala. Tapi sejauh-jauhnya pergi, Nick selalu berkeinginan kembali ke Afghanistan untuk bertemu teman-temannya dan ketiga anak asuhnya itu.

Dua tahun kemudian, keadaan menjadi lebih buruk bagi Khadija, Farishta dan Satar.. Kelompok Mujahidin mengambil alih Kabul. Masyarakat Afghanistan menjadi terpecah belah, tembak menembak jadi pemandangan sehari-hari. Sepuluh ribu orang terbunuh dan terluka, ratusan ribu penduduk mengungsi meninggalkan ibukota. Kelompok Mujahidin itu pun sempat mengobrak-abrik rumah Nick dan teman-temannya yang dulu aman menampung anak-anak malang itu. Hingga akhirnya rumah itu pun diambil alih untuk dijadikan markas Mujahidin. Dan Ketiga anak malang itu pun harus kembali ke rumah lamanya, asrama yatim piatu yang menyedihkan itu. Mereka tinggal di sana selama 20 hari. Beberapa kali mereka menyaksikan peristiwa tragis di hadapan matanya sendiri; orang dibunuh dan disiksa, perempuan diperkosa.. dan seorang teman mereka yang buta ditembak karena berusaha melarikan diri.

Saat malam tiba, mereka hanya tidur dengan selimut tipis di tengah deru angin dingin yang berhembus dari jendela yang ditutup plastik tipis karena kacanya pecah. Tak ada lagi tawa ceria, mereka semakin pendiam. Setiap diajak bicara, yang keluar hanyalah mimpi-mimpi mereka.. Khadija ingin memiliki gaun yang indah dan boneka yang lucu, Farishta ingin memiliki kursi dan sebuah boneka, sedangkan Satar bercita-cita menjadi dokter atau guru. Nick lantas tersentuh hatinya, ia tak tahan dengan penderitaan mereka. Tiba-tiba saja terbersit keinginannya untuk membawa mereka keluar dari peperangan itu.

Nick kemudian mendiskusikan keinginannya itu dengan orang tuanya di Inggris, teman-temannya yang orang Afghanistan, serta teman-teman sesama orang asing yang tinggal di Afghanistan. Upaya merealisasikan keinginannya itu tentu saja tak mudah.. maka Nick pun meminta pertolongan Presiden Afghanistan, Prof. Rabbani. Gayung pun bersambut.. Prof. Rabbani menyambut baik keinginannya dan berjanji akan membantunya.

Maret 1995, Khadija, Farishta, dan Satar keluar dari rumah yatim piatu. Mereka masing-masing mendapat uang 10.000 ribu Afghanis yang hanya bisa membeli beberapa potong roti saja. Mereka pun tak membawa secuil pakaian kecuali yang mereka pakai..

Bulan September 1995, bersama sahabatnya yang bekerja di Palang Merah, Nick membawa ketiga anak malang itu berlibur ke Desa Panjshir, sebelah Utara Kabul.. Dua minggu kemudian Nick kembali ke Inggris. Ia belum bisa membawa serta ketiga anak itu, karena dokumennya belum selesai.. namun akhirnya penantian itu pun berakhir, Nick dapat membawa mereka keluar dari Afghanistan dibantu teman-temannya dari berbagai negara.. Nick memutuskan untuk tinggal bersama ketiga anak adopsinya itu di lingkungan yang tidak rasialis.. dan ia pun memilih menetap di Monaco sebagai Negara yang memenuhi semua kriterianya itu..

Di saat luang, kedua anak gadis itu senang berenang.. Farishta lebih senang berenang di laut daripada di kolam renang.. Saat pertama kali ketiga anak itu melihat laut, tiga pasang mata mereka tak lepas memandangnya.. Negeri mereka memang tidak berbatasan dengan laut.. Farishta bahkan sempat bertanya pada Nick dengan penuh antusias, "Daddy, siapa yang mendorong air laut itu sampai bergulung-gulung begitu?"

Begitulah kisah manis akhirnya dapat mereka rengkuh selepas dari jeratan Afghanistan melalui ketulusan hati Nick dibantu teman-temannya dari dunia Internasional.. Dan, setelah sekian lama melajang, kini Nick ternyata sudah menikah dan memiliki anak-anak biologisnya..





Terlihat di foto atas, Khadija (kiri) kini sudah dewasa.. (Foto yang saya lihat di majalah Femina yang saya baca itu, Khadija masih berumur 12 tahun)

Kisah pilu mereka berakhir, tapi Afghanistan masih carut marut.. Kelompok fundamentalis telah menggadaikan akal sehat, kedamaian dan kesejahteraan umat demi harga yang tidak sepadan.. Pada akhirnya carut marut Afghanistan hanya menjadi objek kepentingan pihak tertentu.


pics taken from : pic. 1, pic. 2, pic. 3, pic. 4


Read more...