Gay, Lesbian, dan Posmodernisme

 Friday, July 25, 2008



Posmodernisme adalah gerakan kebudayaan pada umumnya yang dicirikan oleh penentangan terhadap totalitarianisme dan universalisme, serta kecenderungannya ke arah keanekaragaman, ke arah melimpah-ruah dan tumpang-tindihnya berbagai citraan dan gaya, sehingga menimbulkan fragmentasi, kontradiksi dan pendangkalan makna kebudayaan.

Salah satu ciri posmodernisme adalah keberadaan gender yang tak lagi dibagi menjadi dua golongan; "wanita" dan "laki-laki", tetapi ada juga "gay", serta "lesbian". Fenomena tsb. kini makin kentara bagaimana kaum homosexual memperjuangkan existensinya sebagai makhluk yang juga "normal" seperti halnya kaum yang diberi label "perempuan" dan "laki-laki".

Kaum homoseksual -yang dalam kebudayaan "formal" (kalo boleh saya bilang) dan juga perspektif agama apa pun dipandang sebagai anomaly dan "dosa"- kini makin gencar menuntut haknya untuk diperlakukan dan dipandang sama normalnya dengan kaum normal lainnya; "perempuan" dan "laki-laki". Tuntutan itu juga tak hanya disuarakan oleh kaum homoseksual saja, tapi juga oleh kaum heteroseksual baik "laki-laki" maupun "perempuan". Sebagian dari mereka itu yang notabene kaum "normal" turut memperjuangkan hak hidup kaum homoseksual yang notabene "tidak normal" untuk diperlakukan sama, tidak didiskriminasi.

"The Oprah Winprey Show" misalnya, dalam salah satu episodenya pernah menyajikan topik seputar homoseksual atau transgender. Episode tsb. mengisahkan bagaimana seorang ayah yang beralih gender menjadi seorang wanita, sehingga anak-anaknya kini tak lagi memiliki seorang Ibu melainkan dua orang Ibu biologis!! Selain itu ada juga perempuan-perempuan patah hati mendapati pengakuan kekasih hatinya -pria tampan dan macho- yang ternyata menyukai sesama jenis. Atau seorang Ibu yang mendapati putri kesayangannya yang saat beranjak remaja menyadari dirinya seorang lesbian, dan banyak lagi kisah homoseksual lainnya. Adapun Nate, pria tampan dan ramah yang ahli menata rumah yang kerap dijadikan nara sumbernya Oprah adalah juga seorang gay.

Oprah tentu saja menyajikan topik itu karena punya muatan kontroversial. Sesuatu yang kontroversial tentu saja santapan lezat buat media massa. Tapi, ada apa di balik semua suguhan kontroversial itu selain untuk menaikkan rating dan mendulang duit?
Tentu suguhan tsb. merupakan salah satu cara menunjukkan pada khalayak akan keberadaan kaum homoseksual. Mereka exist loo! Lalu, sikap dan tindakan seperti apa menghadapi realitas ini? Tentu saja kita mesti arif dan bijaksana -ditinjau dari berbagai perspektif- dalam menghadapi realitas yang kontroversial tsb. bukan?

Hmm... kebudayaan bisa jadi memang bisa dicampur-aduk, tumpang-tindih, direka-reka, berubah dari waktu ke waktu. Mengutip tulisannya Yasraf Amir Pilliang dalam buku "Sebuah Dunia yang Dilipat" bahwa riuh rendah euphoria budaya yang ditawarkan dunia baru tsb, warna-warni citraan yang disuguhkannya... Dunia baru ini tak ubahnya seperti hologram raksasa, yang menyuguhkan jutaan warna dan jutaan citra yang tampak nyata…

Read more...

why don't we..

 Tuesday, June 03, 2008

Ebony And Ivory Live Together In Perfect Harmony
Side By Side On My Piano Keyboard, Oh Lord, Why Don't We?

We All Know That People Are The Same Where Ever You Go
There Is Good And Bad In Ev'ryone,
We Learn To Live, We Learn To Give Each Other
What We Need To Survive Together Alive.

Ebony And Ivory Live Together In Perfect Harmony
Side By Side On My Piano Keyboard, Oh Lord Why Don't We?
Ebony, Ivory Living In Perfect Harmony
Ebony, Ivory, Ooh

Read more...

Ketika Tendangan Maut dan Bogem Mentah FPI Membabi Buta..

 Sunday, June 01, 2008

Lagi-lagi kekerasan…

Tak ada yang lebih memprihatinkan dari sebuah aksi penyerangan yang sarat dengan kekerasan dilakukan oleh sebuah ormas yang mengatasnamakan Islam. Sungguh sungguh memprihatinkan menyaksikan bagaimana para anggota Front Pembela Islam melancarkan kekerasan terhadap para anggota Aliansi Kebebasan Beragama. Islam sebagai agama yang sangat menjunjung tinggi perdamaian, toleransi, dan perbedaan, digunakan sebagai penjustifikasian terhadap aksi brutalisme menyerang pihak yang tidak sepaham.

Bukankah Al-Quran menyerukan untuk tidak memaksa orang dalam urusan agama dan bahkan lebih mengutamakan sikap hormat dalam kehidupan beragama:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Q.S. 49:13

Seterdesak apakah gerangan para anggota FPI sehingga harus melakukan penyerangan yang sarat dengan kekerasan dan brutal seperti itu? Sungguh saya tidak menemukan alasan yang masuk akal di balik penyerangan brutal itu.

Muhammad sebagai Nabi junjungan umat Muslim di seluruh jagat raya tak pernah memberi ‘teladan’ seperti itu. Berkenaan dengan pluralisme, Nabi bersikap dengan suatu penghormatan kepada sesama seperti yang diperintahkan Tuhan. Sikap penghormatan itu didasarkan pada hubungan saling mengenal yang bersifat egaliter, hubungan yang bersifat horizontal dan setara. Hanya Tuhan yang mengetahui apa yang tersimpan di hati seseorang dan seberapa dalam kesalehan seseorang. (Tariq Ramadan)

Seperti halnya dengan tradisi spiritual dan keagamaan, seruan untuk bertemu, berbagi, dan hidup bersama harus selalu didasarkan pada tiga persyaratan berikut: berusaha mengenal satu sama lain, tetap bersikap tulus dan jujur selama bertemu dan berdebat, dan akhirnya, berusaha rendah hati menyangkut klaim kebenaran masing-masing. Itulah ajaran Nabi dalam berhubungan dengan orang-orang beriman dari agama lain. Ada pun argumentasi yang diketengahkan Nabi dilandasi oleh pengetahuan, ketulusan, dan kerendah hatian, yang menjadi tiga syarat penghormatan. (Tariq Ramadan)

Begitulah suasana co-exist tercipta di zaman Rasul. Perbedaan bukan dihadapi dengan aksi-aksi menyerang secara brutal dan tidak manusiawi.

Sungguh teramat memprihatinkan aksi kekerasan dan brutal semacam itu dilakukan atas nama Islam! Allah SWT tidak memerlukan “pembelaan” brutal seperti itu!

Read more...

Mahasiswa atau Preman???!!

 Thursday, May 29, 2008



Sebagai salah satu aksi demo menolak kenaikan BBM, gerombolan mahasiswa menyetop kendaraan plat merah yang kebetulan lewat di hadapan mereka. Beberapa di antaranya menaiki kap mobil, lalu menginjak-injak dan memukul-mukul badan mobil nahas itu sambil berteriak-teriak. Tak cukup begitu aksi corat-coret pun dilancarkan mereka dengan tak kalah beringasnya. Mobil yang dibeli dengan duit rakyat itu pun kini bergrafity. Tulisan “milik rakyat” tertera di hampir seluruh badan mobil.

Seorang bocah lelaki yang kebetulan berada di dalam mobil tsb. terlihat begitu shock dan ketakutan menyaksikan kakak-kakak mahasiswa (atau preman?) itu beraksi. Bocah itu duduk di depan, di samping pengemudi mobil, dengan sangat jelas ia melihat bagaimana kakak-kakak mahasiswa (atau preman?) itu melancarkan aksi premanisme-nya. Sang bocah hanya diam dalam ketakutannya yang amat sangat, mungkin ia berharap ‘mimpi buruk’ itu segera berakhir. Begitu pun dengan sang pengemudi, ia hanya diam dengan raut wajah menahan takut.

Demo pasca kenaikan BBM yang dilancarkan mahasiswa (atau preman?) kerap diberitakan di berbagai media. Alih-alih antusias menyimak malah makin bikin muak. Gatal rasanya jemari ini untuk segera memindahkan channel ke acara lain yang tidak sedang menyuguhkan berita seputar “wacky crazy actions” para mahasiswa (atau preman?) itu.
Kenaikan BBM sudah amat menyesakkan, kini aksi demo premanisme yang dilancarkan mahasiswa (atau premaan?) makin bikin perut mual. Apa gerangan yang ada di kepala mahasiswa-mahasiswa (atau premaaannn?) itu???!!! Jujur, bahkan sebetulnya saya enggan menyebut mereka “mahasiswa”.

Lhaa.. “mahasiswa” koq begitu?

Setahu saya, saat jadi mahasiswa dulu, ada banyak bahan bacaan yang membuat kita merenungkan kehidupan ini, salah satunya menghindarkan diri dari kebodohan yang menyulut aksi premanisme yang menyengsarakan sesama umat manusia lainnya (yang nyata-nyata nggak berdosa). Ilmu itu sarat dengan etika dan moral koq.. lha perguruan tinggi itu kan gudangnya ilmu toh? Nah kalo liat mahasiswa bertindak ala preman seperti itu?? Apa lembaganya yang musti dipertanyakan? Di mana integritas tempat bernama “perguruan tinggi” itu?? Hellloooo??!!!

Ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau hanya menghasilkan tindakan-tindakan brutal macam preman seperti itu. Kalau cuma bisa berdemo ala preman macam begitu sih nggak perlu sekolah tinggi-tinggi, preman kelas teri yang biasa malak di stasiun-stasiun juga bisa.. nggak perlu mengecap bangku kuliah.. Lagipula apa bedanya yang didemo dengan yang mendemo kalo sama-sama menyengsarakan umat.

Mbok ya para mahasiswa berdemolah dengan cerdas, pake akal sehat bukan dengkul.. Kalau sekedar pamer aksi premanisme begitu doang, trust me, kalian hanya buang-buang duit (ortu) aja.. Memang bukan rahasia umum bahwa selulus kuliah nyari kerja itu bisa jadi nggak gampang, tapi toh nggak lantas kalian jadi ‘keledai’ koq!! Kalau pun nantinya jadi pengangguran sesaat, tapi kalau moral dan etika masih bersemayam dalam diri kalian, seorang pejabat dengan pangkat tinggi sekali pun kalau dia korup maka ia tak lebih dari cecunguk yang siap ‘diinjak-injak’ (tanpa perlu diinjak beneran) kaki siapa saja, bahkan kaki seorang pengangguran yang nggak pernah berhenti berusaha..

Kamu mahasiswa bukan sih???!!!!

Read more...

TEBING TAK TAMPAK, JURANG TAK TAMPAK

 Saturday, February 23, 2008

...saya tantang mereka untuk dua hal. Yang pertama kalau aktris dalam film seks itu pemerannya ibu, istri, anak, saudara perempuan atau keponakan perempuan mereka dan bukan aktris lain. Bagaimana perasaan mereka? Tak dijawab. Kepada novelis saya tantang bagaimana jika tokoh dalam novel mereka itu yang melakukan seks bebas itu ibu, anak perempuan,saudara perempuan, atau keponakan kalian. Kemudian buat acara. Bacakan novel itu di tengah keluarga dan lihat bagaimana reaksi mereka? Juga tak dijawab.

Itu adalah cuplikan jawaban penyair besar Indonesia Taufiq Ismail dalam sebuah wawancara dengan wartawan Republika (Siti Darojah Sri Wahyuni dan Amin Madani) yang dimuat di Koran Republika (juga on line) Rabu, 20 Februari 2008 terkait dengan Sidang Mahkamah Konstitusi yang membahas permohonan para sineas muda terkait UU tentang perfilman, utamanya terkait tentang sensor film.

Berikut saya kutipkan hasil wawancara tsb. selengkapnya (plus puisi karya beliau) agar kiranya dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua yang peduli terhadap masa depan bangsa ini.. Semoga bermanfaat!


TEBING TAK TAMPAK, JURANG TAK TAMPAK
(Taufiq Ismail)

Untuk Anak-anak Muda Sineas,
Yang Ingin Bebas Tanpa Batas

Di tepi desa kami ada sebuah tebing yang curam
Menghadap ke jurang yang dalam
Di atas tebing itu ada tanah datar lumayan luasnya
Di sana anak-anak kecil bisa bermain-main leluasa
Berkejar-kejaran, melompat-lompat ke sini dan ke sana
Berteriak-teriak, menjerit-jerit dan tertawa-tawa


Karena penduduk desa cinta pada anak-anak mereka
Masih waras dan tak mau anak-anak celaka
Termasuk juga untuk orang-orang dewasa
Maka di tepi tebing dibikinkan pagar sudah lama
Terbuat dari kayu, tua, terbatas kekuatannya
Agar tidak ada yang kepleset terjatuh ke jurang sana


Tebing itu lima puluh meter tingginya
Batu-batu besar bertabur di dasarnya
Semak dan belukar di tepi-tepinya
Hewan buas dan ular penghuninya
Kalau orang terjatuh ke dalamnya
Akan patah, cedera, cacat dan gegar otaknya


Nah, pada suatu hari
Ada anak-anak ABG berdemonstrasi
Menuntut yang menurut mereka sesuatu yang asasi
Dengan nada yang melengking dan tinggi
Tangan teracung, terayun ke kanan dan ke kiri
Dalam paduan suara yang diusahakan harmoni


"Kami menolak pagar tebing, apa pun bentuknya
Kami menuntut kebebasan sebebas-bebasnya
Bermain, melompat-lompat ke sini dan ke sana
Berkejar-kejaran tak ada batasnya
Apa itu pagar? Kenapa dibatas-batasi?
Tubuh kami ini hak kami
Kami menggunakannya semau hati sendiri
Apa itu pembatasan?
Konsep kuno, melawan kemerdekaan
Cabut itu pagar, semuanya robohkan!"

Demo berlangsung, hiruk-pikuklah terdengar suara
Heboh seantero kampung dan desa
Orang-orang bertanya, ini ada apa
Kok jadi tegang suasana
Barulah situasi jadi agak reda, karena
Ternyata yang berdemo itu, anak-anak rabun dan buta

"Saudara-saudara, ABG-ABG ini jangan dicerca
Mereka punya kelainan dalam instrumen mata
Banyak yang rabun, mungkin juga buta
Kena virus datang dari kota, luar desa kita
Konsep tebing dan jurang, tak masuk akal mereka
Tak tampak bahaya kedua-duanya
Beritahu mereka baik-baik, sabar-sabar senantiasa
Masih banyak urusan lain di desa kita."


Bagaimana Anda bisa terlibat dalam uji materil di MK tentang lembaga sensor film?
Keterlibatan saya di dalam sidang MK itu karena diminta oleh Badan Sensor Film. MK merespons permohonan sejumlah sineas muda untuk meninjau materi tentang sensor. Saya menerimanya karena melihat diktum-diktum yang dituntut sineas muda itu yaitu kebebasan dalam berkreasi itu sudah melampau, sudah berlebihan.

Nah, saya bukan pakar di bidang hukum. Jadi ketika dalam sidang tersebut saya menyampaikan suatu konstatasi bahwa sekarang di tengah masyarakat, dalam masa sesudah 1998 atau masa reformasi terjadi bukan saja perubahan politik tapi juga arus besar yang digerakkan oleh budaya permisif dan adiktif di Tanah Air kita. Tak ada sosok dan organisasinya tapi kerja samanya itu mendunia, kapital raksasa mendanainya, landasan ideologinya neoliberalis dengan banyak media massa jadi pengeras suaranya. Menurut saya ada sepuluh komponen dalam gerakan ini yang jaring pengikatnya adalah syahwat atau seks. Saya menyebutnya Gerakan Syahwat Merdeka.


Apa saja sepuluh komponen itu?
Mereka adalah praktisi sehari-hari seks liar baik yang gratis karena sama-sama suka atau membayar dalam jaringan prostitusi. Yang kedua pembuat film, produser dan pengiklan acara televisi syahwat yang acaranya ditonton 170 juta pemirsa. Ketiga, penerbit majalah dan tabloid mesum tanpa SIUP. Ke empat situs porno di internet. Di dunia ada 4,2 juta situs porno dan 100 ribu di antaranya di Indonesia.


Seorang pengamat sosial di AS berkata bahwa fenomena situs porno di negaranya seperti gelombang tsunami setinggi 10 meter dan melanda seluruh bangsa yang dilawan hanya dengan dua telapak tangan. Mereka saja tak berdaya sama sekali, apalagi kita di Indonesia. Yang kelima produsen dan pengecer VCD film biru di Indonesia. Sekarang Indonesia sorga besar pornografi yang paling murah di dunia. Dulu Rp 30 ribu dan sekarang Rp 3.000. Jumlah VCD bajakan juga tak diketahui pasti namun diperkirakan satu juta keping dalam setahun. Artinya tiap 25 detik satu keping diproduksi. Bukan hanya orang dewasa tapi anak SD dan SMP bebas membelinya.


Kemudian penerbit dan pengedar komik cabul yang sasarannya anak sekolah. Ketujuh penulis novel dan cerpen yang asyik dengan alat kelamin manusia. Terbanyak penulisnya perempuan. Saya memberi julukan mereka itu SMS atau sastra mazhab selangkang seangkatan dengan fiksi alat kelamin (FAK). Kedelapan produsen dan pengedar narkoba yang mencengkeram tiga juta anak dan 40 orang mati sehari karenanya. Beban ekonominya mencapai Rp 11 triliunan. Kesembilan pabrik minuman beralkohol yang menjualnya hingga ke desa-desa dan di kios-kios di depan sekolah dengan harga ribuan perak saja per botol kecil.


Yang berikutnya produsen dan penghisap nikotin. Sehari 156 orang mati karena menghisap karena 26 penyakit akibat nikotin. Mengapa rokok, alkohol dan narkoba saya masukkan ke dalam kelompok ini karena sifat adiktifnya dalam saraf manusia mirip betul dengan pornografi. Dan dalam interaksi antarmanusia yang permisif, antara seks, alkohol, narkoba dan nikotin susah dipisahkan.


Gelombang yang terjadi ini belum kita alami sebelum 1998. Kita lihat poliferasi atau penularan penyakit sifilis, gonorhea, dan HIV AIDS yang luar biasa. Siflis dan Gonorhea ada obatnya tapi HIV belum ditemukan obat yang manjur. Kita lihat juga ada perkosaan terhadap anak-anak kecil. Terjadi pagi hari saat mami dan papinya sudah berangkat kerja dan si embak sedang pergi ke pasar. Yang ada hanya anak lelaki tetangga berusia 9-10 atau tahun yang mengancam anak perempuan tadi saat memperkosa. Ini banyak sekali. Di ujung jalan, dari sepuluh gerakan dan hubungan seks tak wajar ini terjadi aborsi.


Menurut data FK Udayana setiap 15 detik satu bayi meninggal karena jumlahnya per tahun 2,3 juta. Ini pidato saya saat di Akademi Jakarta beberapa tahun silam.
Anak-anak pembuat film itu berada di depan. Dari judul-judulnya sudah nampak. Ada film berjudul 'Maaf Aku Menghamili Istri Anda' dan film yang diprotes Aa Gym itu 'Buruan Cium Gue'. Ada yang membuat saya geleng kepala. Sekarang beredar dengan judul 'Quickie Express'. Ini pasti dibuat oleh anak yang baru tahu bahasa Inggris.
Quickie itu janji kencan antara lelaki dan perempuan untuk berzina saat waktu dan tempat amat terbatas dan dilakukan cepat. Kalau orang tahu artinya dalam bahasa Inggris, pasti terkejut dengan judul film ini. Eh, malah ditambah kata 'Express'. Sudah sampai begitu. Ini anak-anak muda dan mereka pinter-pinter. Waktu saya sepuluh menit di MK. Jadi saya sampaikan puisi saya.

Apakah puisi itu ada dampaknya?
Saya kira ini memberi dampak yang bagus karena yang lain semua bicara soal hukum yang menjemukan. Puisi itu metafora dan simbolisme yang mudah ditangkap. Saya risau betul dengan keadaan ini. LSF sebagai lembaga sensor juga pekerjaanya tidak sempurna banyak kekurangan di sana dan sini. Tapi jangan dibubarkan. Jika dibatasi dengan ukuran jangka umur seperti tuntutan mereka itu, akan berantakan luar biasa kita ini. Sekarang saja kita sudah berantakan apalagi jika tak ada peraturan.

Mengapa tuntutan kebebasan itu banyak dari kalangan seniman?
Kebebasan datang di Indonesia setelah kita direpresi 39 tahun yakni 32 tahun pada Orde Baru dan tujuh tahun masa Orde Lama. Jadi start-nya itu tahun 1959. Ada dua tahun setelah 1965 yang cukup baik tapi disusul 32 tahun represi yang luar biasa di semua bidang politik budaya keamaan. Arus itu jebol tahun 1998 saat reformasi. Termasuk bidang seni budaya.


Tapi arus yang sedemikian parah ini apakah juga melanda negara tetangga seperti Malaysia?
Tidak. Demokrasi mereka tak seperti kita. Banyak orang cemburu dengan kita karena orang boleh bicara apa saja tanpa takut ditangkap. Di singapura dan Malaysia ada batas-batas karena masih ada Internal Security Act, seperti kita pada Orde Baru dan Lama. Sekarang bablas semua.


Kekeliruan kita adalah karena pada 1998 tidak ditaruh pancang-pancang untuk membendung air bah. Jika kita lihat pada 1999, 2000 tabloid-tabloid mesum luar biasa beredar. Yang mengiklankan seks itu juga luar biasa lengkap dengan nomor telepon, tempat dan alat-alatnya. Sudah tak ada lagi instrumen yang membatasi. Di bidang film sineas muda merasa masih ada yang membatasi. Kemudian mereka berkumpul dan inilah yang terjadi.


Banyak sineas mengatakan di luar negeri juga ada sensor. Lalu dari mana gagasan sineas muda ini menuntut kebebasan yang seluas-luasnya?
Ya itu tadi, karena air bah yang tujuh-delapan tahun mengalir deras. Mereka bertengger di atas air bah dan menuntut kebebasan yang lebih maksimal lagi. Mereka tak puas dengan yang ada sekarang dan menuntut yang lebih lagi.


Sebagai budayawan, bagaimana perasaan Anda dengan situasi ini?
Saya amat risau. Galau betul rasanya.

Jadi, kita seperti sedang kehilangan nasionalisme?
Ya. Banyak sekali nilai yang dilanggar dan semuanya melampau atau menjadi sangat ekstrem. Ini ciri orang neoliberal. Apa yang menghalangi mereka disebut sebagai tabu. Dan sebuah tindak kepahlawanan apabila tabu itu bisa didobrak. Mereka akan dapat tepuk tangan yang hebat. Nah peraturan ini dianggap sebagai tabu.

Kembali ke dunia film. LSF saja saat ini kelabakan karena bukan hanya film layar lebar tapi sinetron di televisi yang jumlahnya bukan lagi berpuluh tapi beratus-ratus. Mereka kelabakan dan menggapai-gapai. Jadi memang cara kerjanya harus diatur.


Apa ada kaitan dengan kegagalan pengajaran moral di sekolah?
Ini berangkai-rangkai. Dampak pengajaran agama di sekolah itu tak seberapa. Reformasi yang menjadi faktor utama. Amin Rais dan tokoh reformasi pasti tidak menyangka bahwa negara kita seperti ini jadinya. Ini membuat negara tetangga iri sekali.

Seorang teman di Malaysia menceritakan keheranannya. Kata dia di Indonesia itu kok yang suka berlucah-lucah (menulis kisah cabul) itu perempuan. Di Malaysia ada juga tapi lelaki. Mereka bertanya apa sebab? Saya katakan rasa malu yang sudah hilang. Mereka juga heran melihat novel-novel kita yaitu sastra mazhab selangkang yang asyik betul dengan syahwat, yang ketika keluar dipuja-puji dan diberi tepuk tangan. Maka itu dalam pidato saya sampaikan bagaimana membangkitkan rasa malu.


Bukankah karya sastra atau seni itu potret kehidupan masyarakat nyata?
Betul. Tapi, saya tantang mereka untuk dua hal. Yang pertama kalau aktris dalam film seks itu pemerannya ibu, istri, anak, saudara perempuan atau keponakan perempuan mereka dan bukan aktris lain. Bagaimana perasaan mereka? Tak dijawab.


Kepada novelis saya tantang bagaimana jika tokoh dalam novel mereka itu yang melakukan seks bebas itu ibu, anak perempuan,saudara perempuan, atau keponakan kalian. Kemudian buat acara. Bacakan novel itu di tengah keluarga dan lihat bagaimana reaksi mereka? Kemudian kumpulkan orang pengajian, guru, tokoh dan bacakan pula isi novel itu dan tunggu reaksi mereka. Juga tidak dijawab.


Kepada majalah porno yang modalnya dari AS saya tantang bagaimana jika modelnya itu anak perempuan, saudara, ibu, istri atau keponakannya. Juga tidak dijawab. Karena ini semua menyangkut malu. Jika orang ini tak malu pasti mereka sakit jiwa dan menjadi urusan psikiater. Kepada sineas yang membuat film alat kelamin ini saya tantang untuk membuat film tentang kemiskinan. Ada 30 juta penduduk Indonesia miskin dan 70 juta orang menganggur. Mereka tidak menjawab. Juga satu lagi tantangan saya buat film tentang kebodohan. Ada 13 juta anak Indonesia tidak bisa sekolah karena tidak mampu. Mau ke mana mereka nantinya. Ini problem besar yang harus dicarikan solusinya.


Sepertinya ini jadi konflik antara budayawan lama dan angkatan muda. Masih ada yang karyanya mencerminkan kebaikan?
Banyak sekali. Lihat Forum Lingkar Pena yang anggotanya ribuan dan cabangnya ratusan di daerah. Karya mereka baik tapi tidak tercover media massa. Bukan lantas saya pesimistis.


Nyatanya memang media cenderung neoliberal?
Ya, karena modalnya dari sana. Mereka di belakang gerakan syahwat merdeka yang di baliknya ada Amerika dengan nilai triliunan dan berkaitan dengan narkoba. Saya diceritakan film tentang perjalanan anak muda di Yogya. Mereka berhubundan seks menghisap narkoba dan ditunjukkan jelas bagaimana cara menggunakann alat hisap narkoba itu. Ini kan namanya kerja sama. Sepuluh komponen yang bekerja sama.

Apa yang Bapak lakukan untuk menghalau arus ini?
Saya mengingatkan. Itu kewajiban saya. Saya bicara kuantitatif dengan angka-angka untuk meyakinkan orang tentang aborsi, jumlah VCD. Saya bukan bagian dari bikrokrasi yang bisa memutuskan melalui kebijakan. Karena itu saya berterima kasih jika Republika masih mau menyuarakan ini.

Anak muda kita juga sepertinya tak lagi mengenal karya sastra lama yang menjadi bekal?
Betul. Itulah pengajaran sastra di sekolah harus sama-sama diperbaiki. Saya memang sudah mulai kegiatan Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB). Kami jalan ke 213 sekolah, 164 kota, dan membuat 133 sastrawan di 33 provinsi dan mencetak seratus aktor dan aktris. Ini untuk meningkatkan kebiasaan membaca buku, dan berlatih menulis dan apresiasi sastra. Bagaimana sekarang anak sekolah tidak membaca.


Ini perbandingan buku yang wajib dibaca dalam waktu tiga tahun di sekolah di mana disediakan buku di perpustakaan. Di Thailand Selatan siswa membaca lima judul, di Malaysia enam judul, Rusia 12, Kanada 13 judul, di Jepang 15, di Swis 15 judul dan Jerman 22, di Prancis 20 buku, Belanda 20, di Amerika 30 judul dan di Indonesia nol baik di desa-kota sejak 1983-2006.


Saya sedih mendengarnya karena harusnya mereka tahu Hamzah Fansuri, Amir Hamzah. Bukan salah mereka tapi sistem.

Dulu, saya hanya mengeritik dan menendang-nendang tapi kini saya menggerakkan dengan turun ke kota-kota. Ini saja sudah masalah besar sekarang datang lagi masalah ini. Saya juga baru kembali dari Padang, ada seorang wartawan membuat kuisoner tentang internet masuk sekolah. Hasilnya, 51 persen dari anak sekolah melihat situs porno.


Bayangkan itu akibat internet masuk sekolah. Itu anak usia 15-17 tahun melihat aurat yang tidak haknya. Tapi bukan hanya melihat tapi melihat bagaimana aurat itu difungsikan.
Tiga tahun lalu saya bicara dengan Menkominfor yang waktu itu masih Sofyan Jalil. Depdiknas dengan bangga mengumumkan internet masuk sekolah. Dalam hati saya katakan jangan-jangan aduh bahaya. Nanti jika saya ditanya, oleh Allah di Yaumul Hisab saya sudah katakan saya sudah menyampaikannya.

Read more...

Sang Jenderal..

 Tuesday, January 08, 2008



Tak bisa dipungkiri, jasa-jasa sang Jenderal terhadap bangsa ini tidak sedikit.. Meski akhirnya semua kesalahan yang pernah beliau lakukan juga menuai cerca, apalagi proses hukum juga berjalan tersendat.. Tentulah ini makin membuat geram siapa saja yang merindukan kebenaran dan keadilan.

Usia semakin senja, kesehatan pun makin menurun.. apalah arti hidup di dunia yang sebentar ini, toh kehidupan abadi sesungguhnya adalah nanti setelah mati.. Apakah sisa hidup yang mungkin tak lagi seberapa akan terus diisi dengan kelitan demi kelitan menghindari hukum keadilan di dunia.. padahal kebaikan hidup di dunia akan menjadi bekal di akherat kelak..

Tuhan sang Penguasa alam ini adalah juga sang Maha Pengampun.. Siapa saja umat manusia yang mengakui kesalahan atau kekhilafannya dan bertobat dengan sungguh-sungguh, maka Tuhan menjanjikan pengampunan yang tiada tara. Apa sesungguhnya yang didambakan dari kehidupan fana yang tak lama kita singgahi ini, selain tentunya kebaikan yang mustinya kita torehkan di sini.. bukannya berbuat zalim dan menyengsarakan umat yang lain. Meski di atas kezaliman barangkali kita memperoleh kenikmatan dunia.. popularitas, kekayaan, kedudukan, atau kekuasaan, tapi apalah artinya jika ketenangan batin dan jiwa tak kita dapatkan.

Legowo berarti juga berani mendudukan setiap perkara pada tempatnya. Apapun dan di mana pun tempat itu berada, sikap legowo selalu bernilai luhur.. Meski tampuk kekuasaan dan kedudukan tinggi tak lagi dipegang, namun sikap legowo selalu menaruh seseorang pada posisi luhur sebagai manusia yang arif dan bijaksana..

Semoga kepasrahan total pada Yang Maha Kuasa menghampiri sang Jenderal agar ketenangan batin dan jiwa senantiasa menaungi kehidupan beliau di dunia maupun di akherat kelak.. dan bangsa ini tumbuh menjadi bangsa yang arif dan bijaksana, menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan.. Semoga lekas sembuh Jenderal!

(*pic taken from here )


Read more...

Dinar Irak bakal melambung?

 Sunday, December 02, 2007

Belum lama ini ada rumor menyebutkan nilai dinar bakal melambung. Tak pelak, orang-orang yang doyan berinvestasi pada mata uang asing tergiur untuk ramai-ramai memborong mata uang Irak ini.

Slow down.. jangan buru-buru lah!!! This is absolutely such a big speculation. Koq bisa sih begitu saja yakin??!!! Coba lihat situasi dan kondisi Iraq sekarang ini? Bisa dibilang Iraq kini sedang di ambang “kehancuran”!! Situasi politik yang kacau balau, bom bertebaran di sana-sini, bagaimana mungkin situasi ekonominya bisa stabil?? Meskipun ada banyak tambang minyak di sana, tapi kalo system politik, pertahanan dan keamanannya kacau balau, teuteup aja ngga bisa menjamin!

Well, ok deh saya bukan ahli Ekonomi, tapi at least harus tau dong bahwa situasi politik, pertahanan dan keamanan suatu Negara sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi Negara tersebut, begitu juga terhadap nilai mata uangnya!

Kebetulan dalam kolom konsultasi Perencanaan Keuangan Keluarga yang diasuh Ahmad Gozali dari Biro Keuangan Safir Senduk di H.U. Republika, minggu ini, issue tersebut dibahas. Saya kutipkan di sini, semoga bermanfaat..

Pertanyaan:
1. Menurut Mas Gozali, apakah dinar Iraq akan betul-betul bisa mencapai 1 dinar Iraq = 1 dollar AS pada waktu mendatang, dengan melihat kondisi Iraq saat ini yang sedang dalam kondisi tidak menentu, namun potensi ekonomi dari minyak sangat besar.

2. Saya sebetulnya tertarik untuk membeli dinar. Bayangkan, andaikan 1 dinar Iraq bisa mencapai 1 dolar AS, betapa besar keuntungan yang akan diperoleh. Menurut Mas Gozali sendiri bagaimana?

Jawaban:
Memang betul, saat ini ada beberapa pihak yang gencar memasarkan penjualan mata uang dinar Iraq. Yang dimaksud dengan dinar Iraq ini adalah mata uang baru Negara Iraq sebagai pengganti mata uang dinar lama buatan pemerintahan Saddam Husein. Mata uang ini masih belum dipasarkan secara resmi di perdagangan mata uang internasional.

Saat ini pun nilainya masih sangat rendah, namun diklaim akan punya nilai yang sangat tinggi nantinya. Karena Negara Iraq sebetulnya punya potensi yang luar biasa dari hasil minyak bumi. Prediksi dari para penjual dinar Iraq itu adalah nilainya bisa melambung luar biasa naik ketika pemerintahan Iraq sudah stabil dan Iraq bisa mengekspor minyaknya ke luar negeri.

Begitulah yang disampaikan oleh para penjual dinar Iraq untuk menggaet calon konsumen yang akan membelinya. Namun, perlu saya pertegas bahwa nilai mata uang suatu negara bukan hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, tapi juga kondisi politiknya. Mungkin secara ekonomi, Iraq bisa kembali menjadi Negara kaya karena sumber minyaknya yang besar. Namun, secara politik, sumber minyak itu akan percuma saja jika negaranya masih dalam kondisi terjajah seperti sekarang ini.

Sehingga investasi ini tidak saya rekomendasikan, karena sangat besar unsur spekulasinya. Karena bisa saja pemerintah penjajah saat ini mengganti mata uangnya dengan mata uang lain, atau mungkin saja pemerintahan Iraq yang baru membuat mata uang baru lagi. Dan karena mata uang ini belum dijual secara resmi dalam perdagangan mata uang internasional, maka dapat dipastikan mata uang ini adalah ‘selundupan’ dan tidak ada yang bisa menjamin keasliannya.

Pada kenyataannya pun, yang sekarang ini banyak menjual mata uang dinar Iraq adalah para pedagang yang membeli murah, melempar isu agar harganya naik, lalu menjualnya lagi kepada orang lain. Mereka sendiri tidak berani menunggu lama sampai mata uang tersebut benar-benar tinggi nilainya setelah nanti resmi diperdagangkan.

Read more...

Is printed media so old fashioned??

 Monday, July 02, 2007

Kehidupan di tengah pesatnya laju teknologi informasi, diakui atau tidak, membuat keberadaan media cetak cukup kelimpungan. Mampukah bisnis media yang satu ini bertahan melawan gencarnya kemajuan teknologi informasi (TI)?

Kini kita makin dimanjakan oleh kemajuan TI. Setiap saat bisa mengakses info teraktual setiap saat lewat televisi dan internet, bahkan lewat telepon selular yg sering ada dlm genggaman tangan. Beragam informasi dari yang usang hingga ter-up date begitu mudah didapat. Penasaran atau sekedar iseng kepengen tahu soal gosip selebritis, bisa ditonton dari subuh hingga malam lewat tayangan infotainment di setiap stasiun tv atau disimak lewat hp.

Juminten dari Gombong atau Esih dari kampung Naga pedalaman Tasik Malaya sana tahu siapa suami terbaru Titi Di Je, atau kisruh apa yang kini menimpa keluarga Cendana. Bahkan mereka juga sudah bisa melafalkan lagu berbahasa Inggris "Let's Dance Together" yang jadi soundtrack sinetron yang diperankan Cinta, artis remaja peranakan Indo-Jerman yang lagi naik daun itu.

Itulah kehebatan teknologi informasi, dari ujung Papua hingga Aceh sono bisa kebagian informasi yang beragam. Jika saat kecil dulu kita hanya tahu tokoh Unyil dari TVRI, kini ada beragam tokoh anak bertebaran di setiap stasiun tv, ada Elmo Sesame Street, Samurai X, si Barnie, Spongebob, Dora, Mono kurobo, dan lain-lain.. Atau, jika dulu kita hanya tahu kegiatan formal seorang tokoh politik, kini bisa meneropong kehidupan personalnya, bahkan skandalnya sekalipun.

Tak perlu nunggu koran atau majalah terbit esok hari, atau sekedar lari dulu ke kios depan buat beli koran.. nongkrong saja di depan layar tv atau komputer atau sekedar ngeklik menu HP yang ada di genggaman, maka info teraktual dari yang make sense hingga absurd dan terheboh sekali pun bisa cepat didapat. Orang yang malas membaca, bahkan yang buta huruf sekalipun takkan ketinggalan informasi..

Menarik bukan? Kita amat dimanjakan oleh ragam informasi dan hiburan setiap menit, bahkan detik! Tapi… bisa jadi getir!! Kenapa??
Kita termasuk bangsa yang tingkat melek huruf-nya rendah, masyarakatnya banyak yang tak gemar membaca. Pastinya nonton tayangan yang lebih meriah dengan visualisasi yang lebih nyata akan jadi pilihan yang mengasyikan ketimbang baca media cetak!

So,
is printed media so old fashion??!!

Read more...

Lahan Empuk Pebisnis

 Tuesday, June 12, 2007

Oprah's Favorite Things merupakan salah satu episode "The Oprah Winprey Show" yang sempat bikin publik di Amrik sono bahkan penonton di segala penjuru dunia terperangah! Siapa yang tak terperangah tatkala sang pemandu acara menghadiahi masing-masing penonton di studio yang berjumlah 276 itu dengan sebuah mobil Pontiac G6s!!

Siapa sih yang tak kenal Oprah Winprey, wanita kulit hitam yang amat sukses dengan program talkshownya itu!! Lewat program itu, Oprah memang sering kali bagi-bagi hadiah. Selain para penonton yang dihadiahi mobil mewah itu tadi, Oprah juga pernah menghadiahi guru-guru di Amerika yang juga khusus diundang Oprah ke studionya dengan bejibun hadiah mewah; flat TV, mesin pengering baju yang canggih, baju-baju dan kosmetik bermerk, berlibur di salah satu Spa termewah di Amerika, dan banyak lagi!! Semua diberikan Oprah secara cuma-cuma!!

Itulah salah satu acara spektakuler “The Oprah Winprey Show” yang diberi judul Oprah’s Favorite Things! Bisa dibayangkan bagaimana antusiasme para penonton tersebut saat dihadiahi bejibun kado mahal. Begitu pun para penonton di luar studio termasuk saya ikut terpana melihat episode spektakuler garapan Oprah dan cs-nya itu. Si Oprah ini bener-bener kayak Santa ya, hobi betul bagi-bagi hadiah.

Kemurahan hati Oprah memang sudah sejak lama diketahui publik di samping kecerdasannya, dan saya yakin itu bukan imitasi, melainkan datang dari lubuk hati terdalamnya.. Mungkin itu juga salah satu sebabnya mengapa program talk show yang diasuhnya itu jadi acara terlaris hampir di seluruh dunia dan… tentu saja menuai sukses!!

Eits tapi tunggu dulu.. apa betul hadiah itu memang "cuma-cuma"??!! Siapa yang sebetulnya diuntungkan oleh acara itu, para penonton yang ketiban "durian runtuh", Oprah sekaligus program talk-shownya, atau sponsor??!! Tentu semua dapat untung, dan yang jelas sejak episode itu ditayangkan penjualan Pontiac melonjak amat drastis!!!

Begitulah perputaran uang di dunia bisnis entertainment begitu cepat meraup untung. Kredibilitas seseorang bisa jadi lahan empuk untuk mendulang rejeki, bahkan seorang artis 'kacangan' yang kebetulan melejit gara-gara kasus perselingkuhan panasnya yang bikin heboh pun bisa jadi "lahan" empuk!! Konon dengan modal hanya sekian juta rupiah, bisnis entertainment lewat acara infotainment bisa meraup untung miliaran rupiah bahkan bisa lebih lewat pemasukan iklan!!

Siapa "pembelinya"??!! Kita… Kitalah khalayak sekaligus konsumen yang jadi sasaran utama para pebisnis dalam meraup keuntungan yang bisa mencapai angka fantastis!! Para pebisnis tak peduli apakah kita akan jadi korban mode, pembantu rumah tangga menghabiskan 3 bulan gajinya untuk beli hp yang lebih canggih dari hp majikannya, pegawai kantoran bergaji 2 juta mengajukan kepemilikan kartu kredit lebih dari 5 lalu masuk bu'i karena tak mampu bayar tunggakan!! Bisnis adalah bisnis.. dan para pebisnis itu kebanyakan memang tak mau peduli, wong keuntungan fantastis yang mereka tuai!!

Read more...

Cinta..

 Sunday, May 27, 2007


"Love does not consist in gazing at each other, but in looking outward together in the same directions." Begitu Antoine de Saint-Exupery, Sastrawan Perancis menyimpulkan cinta.

Ada juga orang Perancis yang bilang, "L'amour n'est pas parce que mais malgre." Cinta itu bukan "karena", tapi "walaupun". Jadi kalau kita masih mempertanyakan untuk apa kita mencintai seseorang, artinya kita masih pada tahap pare que, tahap "karena". Kita belum sampai pada tahap "walaupun". Kata orang bijak, seseorang belum dapat dikatakan mencintai bila ia masih suka memperhitungkan atau mempertanyakan yang dicintainya.

Ada lagi menurut Goethe, katanya cinta itu punya kekuatan yang mampu merubah seseorang, "we are shaped and fashioned by what we love".

Lain lagi menurut kajian National Geographic yang pernah pula menggarap persoalan cinta. Kajian tsb menyebutkan bahwa cinta adalah sebuah reaksi kimia-biologi yang terjadi dalam tubuh yang tak ada kaitannya dengan masalah psikis.. Hati yang berbunga-bunga saat jatuh cinta adalah sebuah proses kimia yang terjadi dalam tubuh kita tatkala hormon dopamin dan serotonin diproduksi tubuh dengan kadar tinggi.. Jadi tatkala kedua senyawa kimia tsb tak lagi berkadar tinggi, kita takkan lagi merasakan sensasi cinta yang mendebarkan itu.

Lebih lanjut, sebuah penelitian menemukan bahwa sejenis tikus padang rumput mempunyai pola hubungan seks yang monogamy dan abadi. Mereka kawin dengan satu pasangan saja sepanjang hidup. Usut punya usut, ternyata tikus tsb mempunyai kadar senyawa oksitosin yang tinggi. Senyawa oksitosin ini lah yang menimbulkan perasaan keterikatan. Dan, tatkala si peneliti menghambat produksi oksitosin dalam tubuh tikus, si tikus pun bercerai dan berkelana.

Setiap orang bisa jadi punya definisi berbeda soal cinta, meski sensasinya pastilah sama-sama mendebarkan tatkala chemistry itu muncul, tapi.. kita keliru jika berharap cinta akan otomatis langgeng. Tanah suci sekali pun tak serta merta menjamin keutuhan cinta jika kita tak 'menggarap'nya dengan semestinya.. Kesakralan tanah suci mestinya bisa jadi tali yang kokoh jika saja kita menyadari cinta itu tak sekedar urusan perasaan, tapi juga butuh kesadaran, akal sehat, serta perlu terus belajar dan berlatih.

Simak komentar Sara Paddison dalam "HeartMath Discovery Program": Love is not automatic, it takes conscious practice and awareness, just like playing the piano or golf. However, you have ample opportunities to practice. Everyone you meet can be your practice session.

Well, practice makes perfect since it came to love..

GOOD LUCK, every one!

Read more...

Famale Modesty vs Male Chauvinist

 Thursday, May 03, 2007

Majalah Cosmo edisi Desember 2001 pernah memuat artikel keluarga berjudul "Bahagia = Pasrah Total pada Suami". Artikel tsb banyak mengupas bukunya Laura Doyle, "The Surrendered Wife". Doyle adalah seorang pengamat pernikahan paling kontroversial di Amerika yang membersitkan ide tentang pasrah total kepada suami. Hmm.. mungkin ini terdengar ekstrem karena konon si Laura ini dulunya seorang feminist dan mantan "wanita galak"..

Koq bisa??

Menurut Laura, "Menyerah adalah jalan untuk menemukan keintiman, gairah, dan kedamaian dengan pria." Istilah menyerah baginya termasuk menyerahkan seluruh kendali keuangan pada suami. Tak peduli sekalipun suami payah dalam soal pengelolaan keuangan. Kepasrahan juga berarti anda tak boleh membantahnya. Selalu setuju pada semua pendapat suami, sampai ke hal terbodoh sekalipun. Anda juga berkewajiban melayaninya bercinta paling sedikit seminggu sekali, atau kapan saja suami anda menginginkannya, tidak ada istilah tidak mau.

Nah, yang seperti itu mungkin type wanita yang didambakan Ahmad Dhani.. :)

Anyway, majalah Time bahkan menyebutkan bahwa ajaran Laura ini berhasil mengubah kehidupan perkawinan banyak wanita Amerika. Salah seorang wanita tsb mengaku dulunya sangat berkuasa atas suaminya, bahkan untuk urusan kaos kaki yang akan dipakai suami ke kantor! Sudah tentu lah perilaku sang istri ini menimbulkan problem dalam rumah tangganya. Tapi semenjak mengikuti saran si Laura itu, kehidupan rumah tangganya jadi lebih bahagia.

Laura sendiri juga sebetulnya termasuk tipe wanita yang sangat ambisius dan suka memerintah. Baginya, punya suami pasif sama saja dengan "sleeping with the enemy". Bertahun-tahun ia merasa seperti berada di neraka karena tak bisa saling menyesuaikan diri. Menurut psikiater, masalahnya adalah kritik yang membabi buta yang dilontarkan Laura pada suaminya itulah yang jadi masalahnya. Suatu saat ketika sedang kencan makan malam dengan suaminya itu, Laura harus menahan diri untuk tidak mengumbar kritikan dan mendiktenya. Akibatnya, karena tak tahan mengendalikan kebiasaan buruknya itu, Laura malah "meledakkan" amarahnya itu pada waitress yang melayaninya. Meski ia mengaku gagal mengendalikan emosinya saat itu. Pengalaman itu memberikan pelajaran baginya untuk tutup mulut, dan menginspirasinya untuk menahan diri terhadap suami.

Well, ungkapan male chauvinist pig rupanya perlu diralat lagi.. Sifat modesty tak lagi perlu dikebiri, dan.. feminist tulen tak perlu lagi menendang lutut pria yang ingin bersikap gentleman.. hehe..

Read more...

Sekularisasi dalam Pemahamanku

 Friday, April 13, 2007

“Science can purify religion from error and superstition; religion can purify science from idolatry and false absolutes. Each can draw the other into a wider world, a world in which both can flourish… We need each other to be what we must be, what we are called to be.”
-Paus John Paul II-

Saya termasuk yang seringkali tergoda menyamakan sekuler dengan nilai-nilai hedonis yang acap kali diidentikkan dengan dunia Barat. Salah seorang kawan menyikapi dengan kritis pandangan saya itu. Dia menyebutkan bahwa Amerika yang notabene Barat justru amat mengedepankan prinsip ketuhanan sebagai asas kapitalistis mereka seperti tersurat dalam lembaran mata uangnya "In God We Trust". Amerika Serikat sangatlah agamis dan normatif, begitu komentarnya seraya menyebutkan contoh lainnya seperti motivasi-motivasi penyebaran agama dalam sejarah kolonialisme Barat sejak dulu adalah gold, glory, dan gospel.

Namun, masih menurut kawan saya, untuk konteks pengembangan ilmu dan teknologi, peradaban Barat memang sekuler. Peradaban Barat tak menabukan penggunaan logika-logika ilmiah yang terbuka terhadap penjelasan-penjelasan non-Illahiah. Institusi ilmu pengetahuan bisa berkembang dengan pesat karena didasari pada logika-logika ilmiah.

Hhmmm…memperbincangkan soal “sekuler” ini rasanya akan lebih afdol jika dikaitkan dengan wacana sekularisasi ala almarhum Cak Nur (Nurcholish Madjid).. Dalam buku "Islam Kemodernan dan Ke-Indonesiaan" yang ditulisnya, Cak Nur menggaris bawahi perbedaan antara sekularisme dan sekularisasi.

Sekularisme adalah suatu paham yang dimulai dengan formula: "Berikan kepada kaisar apa yang menjadi kepunyaan kaisar (urusan duniawi), dan berikan kepada Tuhan apa yang menjadi kepunyaan Tuhan (urusan ukhrawi)". Dengan perkataan lain, sekularisme adalah suatu paham yang mengatakan bahwa Tuhan tidak berhak mengurusi masalah-masalah duniawi. Masalah-masalah duniawi harus diurusi dengan cara-cara lain yang tidak datang dari Tuhan. Jadi sekularisme adalah paham tidak-ber-Tuhan dalam kehidupan duniawi manusia. Sekularisme membentuk filsafat tersendiri dan pandangan dunia baru yang berbeda, atau bertentangan dengan hampir seluruh agama di dunia ini. Sekularisme bertentangan dengan agama, karena agama meyakini adanya hari kemudian (akhirat).

Jika dikaitkan dengan sekularisme ala Cak Nur tsb. saya tak terlalu menyalahkan orang yang dianggap keliru menyamakan "sekuler" dengan nilai-nilai hedonis.. toh, kehidupan hedonis memang banyak bertentangan dengan nilai-nilai agama.. Bukankah sudah menjadi rahasia umum bahwa di Barat sana, orang sudah biasa melakukan seks pra nikah, gonta-ganti pasangan seks, mabuk, wild party, foya-foya dan sebagainya.. bukankah tak satu pun agama yang mengijinkan hal-hal tsb?
Dari sanalah orang tergoda menyamakan nilai-nilai hedonis dengan "sekuler" yang maksudnya berpaham sekularisme.. "Katanya percaya Tuhan dan beragama tapi koq nyeleneh??" Dan jadilah cap "sekuler" melekat pada mereka. Pun, saya tak terlalu menyalahkan orang yang menyimpulkan pandangan tsb. keliru, karena tak bisa dipungkiri kenyataannya sering juga kita temui nilai-nilai kemanusiaan yang lebih tinggi banyak dipraktekkan mereka yang di Barat sana ketimbang (bahkan) di negara-negara Muslim.

Penuh kontradiksi memang.. Sekarang coba cermati sekularisasi yang disimpulkan Cak Nur.. Sekularisasi adalah proses penduniawian. Dalam proses itu terjadi pemberian perhatian yang lebih besar daripada sebelumnya kepada kehidupan duniawi ini. Dalam lebih memperhatikan kehidupan duniawi itu, telah tercakup pula sikap yg objektif dalam menelaah hukum-hukum yg menguasainya, dan mengadakan penyimpulan-penyimpulan yg jujur. Pengetahuan mutlak diperlukan, guna memperoleh ketepatan setinggi-tingginya dalam memecahkan masalah-masalahnya. Di sinilah letak peranan Ilmu Pengetahuan.

Sekularisasi tanpa sekularisme adalah sekularisasi terbatas dan dengan koreksi. Pembatasan dan koreksi itu diberikan oleh kepercayaan akan Hari Kemudian dan prinsip Ketuhanan. Sekularisasi dalam bentuknya yang demikian selalu menjadi keharusan bagi setiap umat beragama, khususnya umat Islam. Perlu memberikan perhatian yang wajar kepada aspek duniawi kehidupan ini.

Lewat buku biografi Amien Rais yang ditulis Zaim Uchrowi, saya (kurang lebih) mengetahui sejarah Cak Nur membersitkan ide sekularisasi agama yang menjadikannya sosok kontroversial di kalangan Muslim konvensional. Ketika itu, masyarakat Indonesia gampang mensakralkan segala hal; banyak tradisi dan kebiasaan keagamaan dianggap sebagai hal yang suci, tak boleh diganggu gugat. Tafsir serta petikan ayat Al-Qur'an dan Hadist dijadikan seperti Tuhan, dianggap sebagai kebenaran mutlak. Mereka hampir tak dapat menangkap yang tersirat. Mereka hanya mengambil apa yang tersurat atau kasarnya menggunakan "kaca mata kuda" . Kyai atau tokoh agama sering dianggap wakil Tuhan. Di sanalah Cak Nur merasa perlu 'membenahi' cara masyarakat kita memahami Islam.. Dan muncullah wacana sekularisasi agama itu..

Sepertinya kalau harus semua ditulis di sini akan kepanjangan, jadi untuk keterangan lebih lengkap silahkan baca buku Cak Nur "Islam kemodernan dan keIndonesiaan", hal 218. Intinya sekularisasi itu mengajak untuk membedakan mana yang benar-benar sakral dan yang profan.

Saya kira ide "sekularisasi" Cak Nur itu akan jadi amat menarik dan makin bermakna jika digabungkan dengan pendapat Dr. Ali Syariati (sosiolog Muslim) mengenai makna "hijrah".. Syariati menyimpulkan bahwa dunia dalam pandangan masyarakat tertutup – adalah sangkar pribadi yang amat kecil dan rigid, dan tidak ada sesuatu apa pun di balik batas yang demikian sempit – dan sedikit jauh dari kampung halamannya – itu kecuali ketiadaan, kekaburan atau kegelapan total. Masyarakat adalah ungkapan tentang sekumpulan interaksi, tradisi-tradisi, hak-hak pribadi yang kekal dan abadi, dan agama pun merupakan ungkapan dari himpunan kepercayaan dari ritus-ritus yang tidak pernah berubah, bahkan merupakan wahyu yang mesti ditaati tanpa banyak bicara, deterministik, dan jauh dari jangkauan pemahaman dan rasio, khususnya dalam pikiran dan jiwa komunitas orang-orang yang memeluknya pada tingkat yang sama (masyarakat rigid yang tertutup). Dengan kata lain ia merupakan sejenis tindakan naluriah yang buta. Seperti yang diistilahkan Durkheim bahwa agama adalah "Ungkapan lokal dari jiwa masyarakat yang kemudian disakralkan."

Islam tidaklah demikian. Islam sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur'an dan Hadist jelas-jelas menggaris bawahi perlunya "hijrah". Hijrah (saya kira sekularisasi yang dimaksud Cak Nur termasuk di dalamnya) yang secara jelas disebut Syariati sebagai faktor tercapainya kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang yang tertindas dan merupakan sebab bagi diperolehnya kenikmatan yang lebih besar dalam kehidupan di dunia.


Syariati mengambil Q.S 4: 97-100 sebagai bahan rujukan penting dalam kaitannya dengan "Hijrah" tsb. Ayat ini merupakan himbauan kepada semua anak manusia yang berada dalam penindasan, tunduk di bawah kekuasaan yang zalim dan bobrok, serta memadamkan nyala jiwa mereka. Mereka tidak bisa bangkit karena keterikatan mereka dengan tradisi-tradisi sosial dan keterbelengguan mereka dengan pandangan politik yang sempit dan jiwa yang kerdil:

"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "dalam keaadan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di dunia." Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya di jahanam, jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki maupun perempuan dan anak-anak, yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah). Mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dan dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai di tempat yang dituju). Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S 4 : 97-100)

Saya kira seandainya masyarakat Muslim mau melepaskan rantai kejumudan dengan jalan sekularisasi, insya Allah, Islam akan berperan lebih relevan menangani permasalahan sosial, budaya, moral, ekonomi, dan bahkan politik! And no more any corruption, violence and terrorisms!!

"Antum A'alamu biumuri dunyakum" (You know better than me about your worldly affairs)
- Nabi Saw-

More over about Ali Syariati (dikutip dari buku “HAJI”) --> Dr. Ali Syariati meninggal thn 1977 di tempat pengasingannya di Inggris. Beliau bukanlah seorang fanatik yang tanpa alasan menentang setiap hal yang baru; begitu pula ia bukanlah seorang intelektual yang kebarat-baratan, yang tanpa pertimbangan meniru Barat. Beliau adalah seorang Muhajir Muslim yang bangkit dari lubuk terdalam mistisisme Timur, berhasil mencapai puncak sains-sains sosial Barat (Ia melanjutkan studynya di Perancis dengan memperoleh beasiswa, sampai akhirnya meraih gelar Doktor di bidang Sosiologi) namun tidak tenggelam di dalam sains-sains tersebut, dan kemudian kembali kepada kita untuk membawakan permata-permata yang telah diperolehnya di alam perjalanan fantastis tsb.

Semasa hidupnya ia terus menerus berusaha untuk menciptakan nilai-nilai humanitarian di dalam diri generasi muda. Mereka inilah generasi yang nilai-nilainya telah menjadi kotor karena metoda-metoda ilmiah dan teknis. Dengan penuh semangat ia berusaha untuk memperkenalkan kembali Al-Qur’an dan sejarah Islam kepada para pemuda agar mereka dapat menemukan diri mereka yang sesungguhnya di dalam keseluruhan dimensi-dimensi kemanusiaan dan memerangi kekuatan-kekuatan sosial yang telah mengalami dekadensi.

Read more...