Oscar the Grouch & Diogenes

 Friday, August 05, 2011



Siapa yang suka nonton film anak-anak "Sesame Street", pasti tahu Oscar the Grouch. Sesosok makhluk berwarna hijau yang sinis, suka menggerutu dan tinggal di dalam sebuah tong sampah. Lalu, siapakah gerangan Diogenes?


Diogenes adalah salah satu tokoh terkenal dari aliran filsafat sinisme yang didirikan oleh Antisthenes di Athena sekitar tahun 400 SM. Antisthenes merupakan salah satu murid Socrates yang amat tertarik pada kesederhanaannya. Nah, Diogenes merupakan murid dari Antisthenes. Konon ia hidup di dalam sebuah tong, ia tak memiliki apa pun kecuali sebuah mantel, tongkat, dan kantung roti. Kendati demikian, ia tetap berbahagia. Pernah suatu ketika, Alexander Agung datang mengunjunginya, saat itu Diogenes sedang duduk menikmati cahaya matahari. Alexander Agung kemudian bertanya padanya sambil berdiri di hadapannya, apakah dirinya dapat membantu Diogenes, adakah sesuatu yang diinginkan Diogenes. Lantas Diogenes pun menjawab "ya". "Bergeserlah ke samping, anda menghalangi matahari", jawabnya kemudian. Dengan begitu Diogenes membuktikan bahwa dirinya tak kalah bahagia dan kaya dengan manusia agung di hadapannya itu.

Motto aliran filsafat sinisme ini adalah, "Begitu banyak benda yang tidak aku butuhkan," yang merupakan salah satu pernyataan Socrates. Kaum sinis percaya bahwa orang tidak perlu memikirkan kesehatan diri mereka. Bahkan penderitaan dan kematian tidak boleh mengganggu mereka. Mereka pun tidak boleh tersiksa karena memikirkan penderitaan orang lain.

Diogenes konon juga sering membenci orang, sangat sinis, begitu pun Oscar the Grouch. Keduanya juga suka menggerutu, dan sama-sama tinggal dalam sebuah tong! :)
Berikut saya cuplikan beberapa pernyataan Oscar the Grouch yang sinis saat berdialog dengan Kermit the Frog dalam salah satu episode "Sesame Street" :

Kermit the Frog: Uh, public affairs and news? McNeill-Lehrer? Bill Moyers?
Oscar the Grouch: Not my cup of mud.

Oscar the Grouch: [on Pledge Drives] Now that was television! Why can't they do shows like that more often? Well it doesn't matter 'cause I taped it and now I can watch it any time I want. I'm a lucky grouch.

Kermit the Frog: Hi ho there. This is Kermit the Frog and I'm here to find out why Oscar the Grouch likes public television.
Oscar the Grouch: I don't like public television!

Kermit the Frog: How about live concerts?
Oscar the Grouch: I prefer recorded concerts on badly scratched records.
Kermit the Frog: How about movie classics in the original black and white without interruptions?
Oscar the Grouch: I prefer colorized versions with lots and lots of commercial interruptions!


Ide tentang persamaan antara Si Oscar dan Diogenes ini muncul ketika saya membaca novel filsafat "Dunia Sophie" karya Jostein Gaarder saat kuliah dulu. Ya begitulah, pada saat yang kurang lebih sama, tv lokal memang sedang gencar-gencarnya menayangkan serial Sesame Street. Tatkala saya menonton salah satu episode Sesame Street yang sedang menceritakan si Oscar ini, benak saya teringat akan sosok yang tinggal di dalam sebuah tong yang diceritakan di novel "Dunia Sophie" itu.. Hmm... Mereka punya kesamaan, sepertinya ide awal diciptakannya sosok Si Oscar ini memang datang dari salah satu tokoh aliran filsafat sinisme yang cukup terkenal itu!! (*saya belum cari tahu nih..)

Read more...

Poligami dalam Pandanganku.. (part 1)

 Monday, August 01, 2011

Isue poligami menyeruak tatkala seorang da’i yang sedang di puncak karirnya mengaku pada public bahwa dirinya telah menikahi seorang perempuan setelah istri pertamanya. Sontak public kaget tak percaya bahkan kecewa, terutama ibu-ibu yang selama ini menjadi fans beratnya.

Poligami bagi perempuan bisa jadi tak ubahnya mimpi buruk. Perempuan mana sih yang mau dimadu?? Saya pun termasuk yang merasa tidak sanggup kalau harus menjalani poligami, meski saya tidak menyalahkan mereka yang mempraktekannya.

(Sebelum akhirnya sedikit demi sedikit mulai memahami mereka yang memilih poligami) dulu saya sempat sangat antipati sama yang namanya poligami, apalagi perselingkuhan. Begitu gencarnya saya menyuarakan anti poligami. Saya dukung habis-habisan mereka yang juga memiliki pendapat sama. Bahkan saya sempat mengisi sebuah artikel tentang poligami di majalah tempat dulu saya bekerja sebagai reporter. Badriyah Fayumi, anggota DPR-RI komisi VII periode 2004-2009 waktu itu, salah satu nara sumber yang sempat saya wawancara untuk dimintai tanggapannya mengenai poligami. Beliau yang memang sudah sangat mafhum dengan dinamika urusan perempuan ini pun termasuk yang menentang poligami.

Beberapa kalangan menyebut poligami sebagai emergency exit. Artinya ketika nafsu berahi sudah tak sanggup dibendung, maka poligami bisa menjadi jalan keluar darurat, begitu kira-kira. Alhasil dengan begitu, poligami jadi identik dengan nafsu berahi semata, padahal poligami yang dijalankan oleh Rasulullah Muhammad saw, amat jauh dari urusan semacam itu. Mereka yang menyebut poligami sebagai sunnah Rasul, lantas menyebutnya sebagai emergency exit malah telah mengecilkan makna poligami yang dijalankan Rasul yang sesungguhnya amat mulia. Dan secara tidak langsung telah mengecilkan makna ke-Islaman itu sendiri.

Kita semua tahu bahwa pernikahan-pernikahan Muhammad saw dilandaskan atas dasar kemanusiaan, keadilan dan misi beliau dalam menyebarkan agama Islam. Penting pula untuk diingat bahwa Nabi tidak mengambil istri lain selama 17 tahun pernikahannya dengan Khadijah (hingga beliau wafat). Pun, beberapa istri Nabi sesudah Khadijah, adalah janda-janda yang ditinggal mati suami dalam peperangan. Beberapa di antaranya bukanlah perempuan muda dan cantik. Misi Nabi saw dalam berpoligami jauh lebih besar dan mulia dari sekedar menuruti hawa nafsu belaka. Dan bukannya tanpa masalah, manusia mulia setaraf Nabi pun bahkan tak lepas dari riak-riak gelombang pasang-surut pernikahan poligami. Jelas poligami memang bukan hal yang mudah untuk dijalankan, bahkan Allah SWT pun perlu 'menggaris-bawahi'nya dalam kitab suci-NYA.

Bersambung..

Read more...

Servant of Peace

 Monday, July 18, 2011


Lord, make me an instrument of Thy peace;
where there is hatred, let me sow love;
where there is injury, pardon;
where there is doubt, faith;
where there is despair, hope;
where there is darkness, light;
where there is sadness, joy;

O Divine Master,
grant that I may not so much seek to be consoled as to console;
to be understood, as to understand;
to be loved, as to love;
for it is in giving that we receive,
it is in pardoning that we are pardoned,
and it is in dying that we are born into Eternal Life.

Amen.

(by. Snatam Khaur/ pic taken from avaxhome)

Read more...

Pak Walkot, kita dan tangan-tangan yang dicium Rasul saw.

 Saturday, July 17, 2010

Hendak ke Pasar Baru lewat jam sepuluh pagi di hari Sabtu, Minggu atau hari libur lainnya apalagi di bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran??

Nggak perlu heran kalau kemudian dihadang macet dan kesemrawutan lainnya saat menyusuri sepanjang jalan Otista (Otto Iskandar Dinata), tepatnya sekitar bangunan Pasar Baru.. Mobil, motor, becak (yang maju melawan arah), sepeda, pejalan kaki, pendorong gerobak, semua tumplek plek di sana berebut lahan untuk bergerak.. Lengkingan klakson di sana-sini dan terik yang begitu menyengat..

duh apa nggak makin bikin ‘alergi’ aja tuuh pergi ke Pasar Baru?? Tapi anehnya Pasar Baru selalu saja diminati untuk dikunjungi meski dengan segala keruwetan yang ada..

Sebetulnya Pasar Baru sudah dibenahi Pemkot Bandung dengan menertibkan PKL dan lahan Parkir di pinggiran jalan Otista yang sebelumnya memang lebih parah keadaannya.. tapi teuteup aja tak bener-bener tertib dan nyaman, terutama di hari-hari padat pengunjung.. Teuteup semrawut wut!

Di tengah kemacetan dan terik yang menyengat tiba-tiba tukang becak menyusup begitu saja melawan arus pula dengan lagak tanpa dosa untuk bergerak maju di tengah berjubelnya kendaraan bermotor.. Pendorong gerobak pun tak ketinggalan memotong jalan sekenanya.. lalu pengendara motor yang berjubel dan sopir angkot saling menyusup dan berebut jalan.. duuh, *#&#^&!#^!!! Paling-paling saya hanya bisa menghela nafas di balik kemudi, menyeka keringat, menekan klakson, dan tak jarang pula menyerapahi sopir angkot, tukang becak, pengendara motor, dan pendorong gerobak yang mengambil jalan seenak diri tanpa aturan.. (*cuma mulutnya doang sih yang terlihat berkomat-kamit, serapah apa yang diucapkan sepertinya siih tak terdengar mereka di tengah riuh rendah kemacetan itu.. %#^@*#@&^#!!)

OOhhhh.... tapi pernahkah kita berpikir bahwa penarik becak, penarik gerobak, sopir angkot adalah para pekerja kasar yang memeras keringat mereka untuk mencari nafkah tanpa perlindungan asuransi apa pun. Pekerjaan mereka pun kerap dipandang rendah.. ditambah perilaku mereka di jalanan yang tak jarang melanggar aturan.. menambah komplit saja stigma buruk yang dilekatkan pada mereka.

Saya hendak mengutip tulisan Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat) tentang tangan yang pernah dicium Rasul saw..

Sa’ad Al-Anshari bercerita: Pada suatu hari seorang sahabat Nabi memperlihatkan tangannya yang hitam dan melepuh. Ketika Nabi saw menanyakan hal itu, ia berkata bahwa tangannya melepuh karena bekerja keras untuk mencari nafkah yang halal bagi keluarganya. Mendengar itu, Nabi yang mulia mengambil tangannya dan menciumnya. Seakan-akan Nabi ingin mengatakan kepada seluruh pengikutnya bahwa tangan yang melepuh karena kerja keras adalah tangan yang dicintai Allah.

Masih mngutip catatannya Kang Jalal, ada jutaan tangan yang menghitam karena mencari sesuap nasi, beberapa di antaranya adalah penarik becak itu yang mengayuh becak mereka pada daerah yang makin menyempit dan di sela-sela petugas penertiban yang makin banyak, lalu sopir angkot yang memutar kemudinya di sela-sela pungutan liar, pendorong gerobak, pedagang asongan yang barangkali telah membuat kita jengkel karena melanggar aturan lalu lintas.

Wahai Pak walikota... bertahun-tahun permasalahan lalu lintas (dan tata kota) di Bandung tak pernah benar-benar tertib.. penyelesaian masalah selalu diikuti dengan masalah baru.

Pak Walikota, semua warga memiliki persamaan hak mendapatkan kelancaran dan kenyamanan di jalan untuk melaksanakan kelangsungan hidupnya masing-masing. Hak penarik becak, pejalan kaki, pedagang kaki lima, pedagang asongan, pengendara mobil, motor, atau bahkan pengendara sepeda, dan lainnya tak pernah benar-benar diperhatikan.. pada akhirnya mereka saling menyalahkan satu sama lain atas kesemrawutan yang ada...

Read more...

At A Cozy Afternoon

 Wednesday, August 05, 2009

Jika ada lagi pengalaman yang membuat saya cukup amaze, maka pengalaman itu terjadi kira-kira awal November tahun lalu.. Sore itu saya diajak dua teman dekat dan seorang teman lainnya menemui Iwan Abdurrahman (Abah Iwan) untuk suatu urusan di kediamannya yang serba hijau di daerah Cigadung Raya.

Memasuki gerbang rumahnya yang tinggi, kami dibuat ternganga.. “what a house!!” Begitu kira-kira yang ada di benak kami masing-masing saat kendaraan yang saya kendarai melaju memasuki pekarangan rumahnya yang luas. Kontur tanahnya yang berbukit ditumbuhi pepohonan pinus di mana-mana.. and guess what?? Ternyata ada pula pohon bunga sakura yang sedang mekar di sana. Dua buah bangunan rumahnya sendiri samar-samar terlihat dari sela-sela jajaran pohon-pohon pinus di tanah yang berbukit itu. Rumah bergaya country ala Amerika atau Eropa sana.

Sore itu baru saja hujan dan pemandangan di kediaman musisi sekaligus salah satu ‘mbah’-nya Wanadri ini betul-betul membuat kami takjub! Rupanya di antara keruwetan Bandung, pemandangan yang serba hijau dan asri yang menyejukkan hati masih bisa ditemui.

Setelah kendaraan terparkir, kami pun turun dari kendaraan dan mengikuti instruksi penjaga rumah yang ramah untuk menemui beliau di sebuah bangunan rumah yang terletak di atas tanah berbukit itu. Kami lalu berjalan menaiki tanah berbukit itu, pohon-pohon pinus berdiri di kanan kiri kami, aroma kayu yang menyegarkan tercium lewat hembusan angin.. “wow”!!

“Beginilah jika seseorang mencintai alam dan lingkungannya, maka Tuhan akan menganugerahkan keindahannya pada orang tsb.” Kalimat itu tiba-tiba saja terucap dari mulut saya, sementara teman-teman saya lainnya juga sibuk dengan ketakjubannya masing-masing.

Kami pun tiba di sebuah bangunan yang bernuansa country itu. Untuk sampai di pintu depan rumah tersebut, kami mesti menaiki beberapa anak tangga terlebih dulu. Dan, setibanya di depan pintu, seseorang kemudian menyambut akrab dan hangat kedatangan kami.. “Mangga-mangga leubeut..” Setelah melepaskan alas kaki, kami pun mengikuti pria tsb masuk ke dalam bangunan rumah..

“Ngobrol-ngobrolnya kita di ruang bawah tanah aja ya..” Ujarnya seraya berjalan menuju ruangan yang dimaksud. Kami lalu mengikutinya, menuruni anak tangga sampai kemudian memasuki sebuah ruangan yang mirip ruang tamu itu. Kami pun duduk di sana ditemani pria yang amat friendly itu ngobrol sambil menanti abah Iwan datang. Seorang pelayan rumah kemudian menawari kami minum.. “Mau minum apa mbak, teh, kopi, atau air putih saja?” Kami pun sepakat memilih teh saja. Akang pelayan pun pergi membuatkan teh untuk kami, dan tak lama kemudian ia sudah kembali menyuguhkan teh hangat dan sebuah stoples berisi gula putih untuk kami. Sambil ngobrol, sesekali kami mengamati ruangan yang berdinding batu alam itu, gambar-gambar ala country tertancap di sana, ada juga piano tua berdiri di ruangan itu. Pintu keluar terbuka lebar, pemandangan pohon-pohon pinus itu pun kembali terlihat... hmmm... kami seolah sedang berada dalam sebuah rumah di tengah hutan pinus Amerika sana...

Melihat piano tua, Saya pun membayangkan mungkin piano itu sering dipakai Abah Iwan untuk menciptakan lagu-lagu serta syairnya yang indah. Vina Panduwinata pernah menyanyikan beberapa karya Iwan Abdurahman dan memenangkan berbagai penghargaan dalam dan luar negeri…

Tak lama sosok yang dinanti pun muncul. Beliau menyambut kami ramah seraya menjabat tangan kami. Tak lama kami pun membahas maksud dan tujuan kami menemuinya. Tak sekedar begitu, kami juga ngobrol banyak sekali tentang alam dan lingkungan di kota Bandung. Dan, di luar dugaan.. Abah Iwan ini begitu ramah dan bersahabat. Tak terasa kami ngobrol lebih dari satu jam, sharing dan tentu saja kita diajak untuk berkontemplasi, merenungkan alam terutama lingkungan tempat kami tinggal ini dengan segala kesemrawutannya yang tak jarang kami serapahi ini..

Di antara obrolan itu, Abah Iwan membahas tentang bunga flamboyan, salah satu judul lagu ciptaannya. Apakah flamboyan berguguran itu kini sudah tak dapat lagi dijumpai di Bandung yang tak seindah dulu?? (Ini pula mungkin pertanyaan yang sering hinggap di benak masyarakat Bandung lainnya atau paling tidak yang tau lagu Flamboyan).. Dan inilah jawaban beliau.. Bunga Flamboyant masih bisa dinikmati di kota Bandung, daun-daunnya pun masih berguguran meski tak seperti karpet merah yang ada di dalam syair lagu Flamboyan. Coba amati di daerah Jl. Supratman dan Dr. Cipto pada bulan September dan Oktober.. maka flamboyan itu ada, bermekaran dan berguguran (bahkan pohon flamboyan yang dulu menginspirasi Abah menulis lagu Flamboyan itu pun masih ada di daerah Dr. Cipto).


Sayangnya fenomena Flamboyan ini tidak banyak disadari oleh kebanyakan masyarakat Bandung kini. Benak kita sudah terlalu banyak dipenuhi dengan gambaran Bandung yang semrawut, sesak, macet, panas, dan citraan buruk lainnya, sehingga fenomena sederhana namun sesungguhnya indah itu tak dapat kita lihat. Jiwa dan batin kita sudah banyak dipenuhi kekesalan, sehingga hal sederhana yang justru menyimpan keindahan luput dari pantauan kita. Abah pun mengakui dirinya dulu pernah marah dan berserapah, tapi kemudian ia menghitung setiap serapah yang keluar dari mulutnya itu dan menggantinya dengan menaman sejumlah tanaman sesuai jumlah serapah yang pernah keluar dari mulutnya di tempat-tempat tandus. Jadi alih-alih berserapah lebih baik ganti saja dengan menanam pohon, begitu pesan Abah..

Hmmmm... andai bisa semudah itu kami menutup mulut, berhenti ngeyel melihat berbagai kesemrawutan itu, sementara segelintir orang yang punya kepentingan enak-enak saja mengeruk keuntungan demi keuntungan di atas kesemrawutan dan perusakan kota yang dulu dijuluki Parijs van Java ini!

Tapi Abah, sungguh kami betul-betul melupakan kesumpekan kota ini di tengah obrolan sore yang hangat itu, di tengah udara dingin di antara pepohonan pinus, rintik-rintik kecil hujan yang kembali turun..

Sebelum pulang di sore menuju Maghrib itu, Abah mengajak kami terlebih dulu berkeliling ke setiap ruangan di rumah itu. Ada sebuah kamar tamu yang ranjang tidurnya menghadap jendela yang menyuguhkan pemandangan bukit pepohonan pinus.. “what a life!!!” Persis seperti ungkapan seorang bayi lucu yang mulutnya tersenyum lebar yang terpampang di dinding kamar itu. Kemudian abah mengajak kami ke bangunan rumah yang lain yang didiaminya bersama keluarganya yang terletak di bawah bukit. Dinding luar rumah itu dipenuhi dedaunan yang merambat yang sumber pohonnya tumbuh di dalam ruang tamu kediaman Abah. It takes 20 years untuk bisa berdaun lebat menutupi seluruh dinding luar rumah itu..

Sore sudah hampir Maghrib, akhirnya kami pun pamit pulang, dan Abah sendiri yang membukakan pintu gerbang sambil membantu memberi aba-aba pada saya hingga mobil melaju meninggalkan kediamannya.. Terima kasih Abah, sungguh sore yang indah!
pic taken from : http://people.uleth.ca/~holzmann/nz/

Read more...

Pilih-Pilih Teman?? Why Not??

 Sunday, March 15, 2009

Not everyone is an appropriate match. If there’s someone in your life who makes you feel bad about yourself, doesn’t share any of your interests or values, or is someone that you just don’t mesh well with, it’s perfectly acceptable to put that relationship on the back burner, let it fade away altogether, or not develop it in the first place. Even if you were at one time very close, people change and grow in different directions. It doesn’t mean there’s something ‘wrong’ with either of you, but if someone in your life is no longer good for you, it’s perfectly acceptable to let them go. (Conversely, if you’d like to keep them in your life out of loyalty, albeit in a periphery role, that’s okay, too. However, it would be beneficial to remember not to count on them for support, if they’re not able to give it to you.) Only you know if the relationship is worth keeping or not, but it’s important to have several people you can count on for support in your life.

Read more...

????!!!!

 Sunday, December 28, 2008

Read more...

Afghanistan, Islam Radikal, dan Nick Danziger

 Monday, October 20, 2008

Judul postingan kali ini mungkin kelewat 'wah'... Sebetulnya saya baru saja membaca kisah sejati tentang seorang wartawan foto kenamaan asal Inggris, Nick Danziger yang mengadopsi anak-anak korban perang dari Afghanistan. Kisah tsb. saya baca dari majalah Femina edisi tahun 1999...

Dulu, Ibu saya berlangganan Femina sejak tahun 80-an hingga akhirnya berhenti berlangganan tahun 2003an.. Dan kami masih menyimpan tumpukan sisa-sisa majalah Femina yang tak kami jual atau berikan pada orang lain.. Biasanya kami membacanya kembali di saat-saat luang atau bahkan tidak sama sekali..

Dan, kisah sejati tentang pria Inggris yang mengadopsi tiga bocah malang asal Afghanistan ini sebetulnya bukan yang pertama kalinya saya baca. Hanya saja kali ini koq ada 'perhatian' lebih... Mungkin karena ingatan akan carut marutnya Afghanistan melekat cukup dalam setelah membaca novel "The Kite Runner" belum lama ini; Perang saudara, terorisme, ledakan bom dan senjata api di mana-mana, kemiskinan, kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, fanatisme yang buta.. hmm.. Itulah beberapa kelumit cerita pahit tentang Afghanistan yang selama ini saya tahu baik dari novel, film, atau pun berita dari media massa.





Kembali saya hanyut dalam kisah pilu dari Afghanistan lewat kisah sejati Nick Danziger yang dikisahkan kembali oleh majalah Femina itu..

Sebagai wartawan foto, Nick Danziger telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk keliling dunia memotret berbagai kejadian penting dari segala penjuru. Tak tanggung-tanggung, tanah yang penuh dengan konflik peperangan pun ia jejaki, salah satunya Afghanistan.

Saat bertugas di tanah persembunyian Osama bin Laden itulah, Nick bertemu dengan tiga bocah malang asal setempat. Mereka adalah kakak beradik Khadija dan Farishta, serta seorang anak lelaki bernama Satar. Khadija dan Farishta adalah penghuni rumah penampungan anak-anak yatim piatu di Kabul. Kondisi penampungan itu amat memprihatinkan. Bersama 14 anak lain yang usianya antara 2 sampai 12 tahun, mereka hidup berhimpitan di ruangan kecil itu. Kekurangan makanan dan obat-obatan. Di negeri yang sedang bergejolak karena peperangan itu juga lah mereka menghabiskan waktunya dalam ketakutan.

Khadija dan Farishta harus berhenti sekolah saat mereka menginjak usia 8 tahun, hanya karena mereka berjenis kelamin perempuan. Sedangkan Satar tak bersekolah karena ia cacat folio.

Pertama kali Nick bertemu Khadija dan Farishta tahun 1989. Waktu itu Khadija masih berusia 4 tahun dan Farishta 2,5 tahun.

Tahun 1990, ketika Presiden Najibullah didukung Sovyet yang sedang berkuasa, Nick sempat membuat rumah singgah (dibantu Palang Merah Norwegia, Dalai Lama, dan Putri Sadruddin Aga Khan, serta masyarakat internasional yang terketuk hatinya) sebagai tempat tinggal anak-anak yatim piatu. Nick mengusahakan sedemikian rupa agar rumah tersebut aman bagi anak-anak malang itu, karena peperangan di luar sana begitu menakutkan. Barulah Satar kemudian datang ke rumah tsb. diantar oleh seseorang. Satar telah ditelantarkan ayahnya karena cacat, dan ibunya meninggal ketika melahirkan adiknya.

Saat tak sedang bertugas Nick selalu kembali mengunjungi Afghanistan. Meski lahir dan berkantor di Inggris, Nick yang saat itu masih lajang sesungguhnya tak memiliki rumah di tanah kelahirannya itu. Setiap cuti, ia pun terbang ke Afghanistan mengunjungi anak-anak malang itu. Nick berusaha mencarikan orang tua asuh bagi mereka. Dan satu demi satu, anak-anak itu pun mendapatkan orang tua asuh.. kecuali Khadija, Farishta dan Satar. Mereka seperti anak-anak yang tak diinginkan. Pada akhirnya Nick pun berhenti mencarikan orang tua asuh bagi mereka. Ia memutuskan untuk mengurusnya sendiri ditemani beberapa temannya dari Palang Merah Inggris.





Tahun pertama Nick hidup bersama ketiga anak itu, tak pernah terbayangkan olehnya suatu hari nanti ia akan mengadopsi mereka dan membawanya keluar dari Afghanistan. Nick adalah seorang nomaden, ia tak pernah menetap di satu tempat. Dirinya mengaku kurang punya rasa tanggung jawab terhadap orang lain, ia terbiasa hidup sendiri. Waktunya habis di luar negeri dan di atas pesawat terbang. Baru saja tiba di Kabul, ia sudah mendapat tugas ke Paris. Dari Paris, ia mesti terbang ke Kurdhistan, lalu ke Guatemala. Tapi sejauh-jauhnya pergi, Nick selalu berkeinginan kembali ke Afghanistan untuk bertemu teman-temannya dan ketiga anak asuhnya itu.

Dua tahun kemudian, keadaan menjadi lebih buruk bagi Khadija, Farishta dan Satar.. Kelompok Mujahidin mengambil alih Kabul. Masyarakat Afghanistan menjadi terpecah belah, tembak menembak jadi pemandangan sehari-hari. Sepuluh ribu orang terbunuh dan terluka, ratusan ribu penduduk mengungsi meninggalkan ibukota. Kelompok Mujahidin itu pun sempat mengobrak-abrik rumah Nick dan teman-temannya yang dulu aman menampung anak-anak malang itu. Hingga akhirnya rumah itu pun diambil alih untuk dijadikan markas Mujahidin. Dan Ketiga anak malang itu pun harus kembali ke rumah lamanya, asrama yatim piatu yang menyedihkan itu. Mereka tinggal di sana selama 20 hari. Beberapa kali mereka menyaksikan peristiwa tragis di hadapan matanya sendiri; orang dibunuh dan disiksa, perempuan diperkosa.. dan seorang teman mereka yang buta ditembak karena berusaha melarikan diri.

Saat malam tiba, mereka hanya tidur dengan selimut tipis di tengah deru angin dingin yang berhembus dari jendela yang ditutup plastik tipis karena kacanya pecah. Tak ada lagi tawa ceria, mereka semakin pendiam. Setiap diajak bicara, yang keluar hanyalah mimpi-mimpi mereka.. Khadija ingin memiliki gaun yang indah dan boneka yang lucu, Farishta ingin memiliki kursi dan sebuah boneka, sedangkan Satar bercita-cita menjadi dokter atau guru. Nick lantas tersentuh hatinya, ia tak tahan dengan penderitaan mereka. Tiba-tiba saja terbersit keinginannya untuk membawa mereka keluar dari peperangan itu.

Nick kemudian mendiskusikan keinginannya itu dengan orang tuanya di Inggris, teman-temannya yang orang Afghanistan, serta teman-teman sesama orang asing yang tinggal di Afghanistan. Upaya merealisasikan keinginannya itu tentu saja tak mudah.. maka Nick pun meminta pertolongan Presiden Afghanistan, Prof. Rabbani. Gayung pun bersambut.. Prof. Rabbani menyambut baik keinginannya dan berjanji akan membantunya.

Maret 1995, Khadija, Farishta, dan Satar keluar dari rumah yatim piatu. Mereka masing-masing mendapat uang 10.000 ribu Afghanis yang hanya bisa membeli beberapa potong roti saja. Mereka pun tak membawa secuil pakaian kecuali yang mereka pakai..

Bulan September 1995, bersama sahabatnya yang bekerja di Palang Merah, Nick membawa ketiga anak malang itu berlibur ke Desa Panjshir, sebelah Utara Kabul.. Dua minggu kemudian Nick kembali ke Inggris. Ia belum bisa membawa serta ketiga anak itu, karena dokumennya belum selesai.. namun akhirnya penantian itu pun berakhir, Nick dapat membawa mereka keluar dari Afghanistan dibantu teman-temannya dari berbagai negara.. Nick memutuskan untuk tinggal bersama ketiga anak adopsinya itu di lingkungan yang tidak rasialis.. dan ia pun memilih menetap di Monaco sebagai Negara yang memenuhi semua kriterianya itu..

Di saat luang, kedua anak gadis itu senang berenang.. Farishta lebih senang berenang di laut daripada di kolam renang.. Saat pertama kali ketiga anak itu melihat laut, tiga pasang mata mereka tak lepas memandangnya.. Negeri mereka memang tidak berbatasan dengan laut.. Farishta bahkan sempat bertanya pada Nick dengan penuh antusias, "Daddy, siapa yang mendorong air laut itu sampai bergulung-gulung begitu?"

Begitulah kisah manis akhirnya dapat mereka rengkuh selepas dari jeratan Afghanistan melalui ketulusan hati Nick dibantu teman-temannya dari dunia Internasional.. Dan, setelah sekian lama melajang, kini Nick ternyata sudah menikah dan memiliki anak-anak biologisnya..





Terlihat di foto atas, Khadija (kiri) kini sudah dewasa.. (Foto yang saya lihat di majalah Femina yang saya baca itu, Khadija masih berumur 12 tahun)

Kisah pilu mereka berakhir, tapi Afghanistan masih carut marut.. Kelompok fundamentalis telah menggadaikan akal sehat, kedamaian dan kesejahteraan umat demi harga yang tidak sepadan.. Pada akhirnya carut marut Afghanistan hanya menjadi objek kepentingan pihak tertentu.


pics taken from : pic. 1, pic. 2, pic. 3, pic. 4


Read more...

Gay, Lesbian, dan Posmodernisme

 Friday, July 25, 2008



Posmodernisme adalah gerakan kebudayaan pada umumnya yang dicirikan oleh penentangan terhadap totalitarianisme dan universalisme, serta kecenderungannya ke arah keanekaragaman, ke arah melimpah-ruah dan tumpang-tindihnya berbagai citraan dan gaya, sehingga menimbulkan fragmentasi, kontradiksi dan pendangkalan makna kebudayaan.

Salah satu ciri posmodernisme adalah keberadaan gender yang tak lagi dibagi menjadi dua golongan; "wanita" dan "laki-laki", tetapi ada juga "gay", serta "lesbian". Fenomena tsb. kini makin kentara bagaimana kaum homosexual memperjuangkan existensinya sebagai makhluk yang juga "normal" seperti halnya kaum yang diberi label "perempuan" dan "laki-laki".

Kaum homoseksual -yang dalam kebudayaan "formal" (kalo boleh saya bilang) dan juga perspektif agama apa pun dipandang sebagai anomaly dan "dosa"- kini makin gencar menuntut haknya untuk diperlakukan dan dipandang sama normalnya dengan kaum normal lainnya; "perempuan" dan "laki-laki". Tuntutan itu juga tak hanya disuarakan oleh kaum homoseksual saja, tapi juga oleh kaum heteroseksual baik "laki-laki" maupun "perempuan". Sebagian dari mereka itu yang notabene kaum "normal" turut memperjuangkan hak hidup kaum homoseksual yang notabene "tidak normal" untuk diperlakukan sama, tidak didiskriminasi.

"The Oprah Winprey Show" misalnya, dalam salah satu episodenya pernah menyajikan topik seputar homoseksual atau transgender. Episode tsb. mengisahkan bagaimana seorang ayah yang beralih gender menjadi seorang wanita, sehingga anak-anaknya kini tak lagi memiliki seorang Ibu melainkan dua orang Ibu biologis!! Selain itu ada juga perempuan-perempuan patah hati mendapati pengakuan kekasih hatinya -pria tampan dan macho- yang ternyata menyukai sesama jenis. Atau seorang Ibu yang mendapati putri kesayangannya yang saat beranjak remaja menyadari dirinya seorang lesbian, dan banyak lagi kisah homoseksual lainnya. Adapun Nate, pria tampan dan ramah yang ahli menata rumah yang kerap dijadikan nara sumbernya Oprah adalah juga seorang gay.

Oprah tentu saja menyajikan topik itu karena punya muatan kontroversial. Sesuatu yang kontroversial tentu saja santapan lezat buat media massa. Tapi, ada apa di balik semua suguhan kontroversial itu selain untuk menaikkan rating dan mendulang duit?
Tentu suguhan tsb. merupakan salah satu cara menunjukkan pada khalayak akan keberadaan kaum homoseksual. Mereka exist loo! Lalu, sikap dan tindakan seperti apa menghadapi realitas ini? Tentu saja kita mesti arif dan bijaksana -ditinjau dari berbagai perspektif- dalam menghadapi realitas yang kontroversial tsb. bukan?

Hmm... kebudayaan bisa jadi memang bisa dicampur-aduk, tumpang-tindih, direka-reka, berubah dari waktu ke waktu. Mengutip tulisannya Yasraf Amir Pilliang dalam buku "Sebuah Dunia yang Dilipat" bahwa riuh rendah euphoria budaya yang ditawarkan dunia baru tsb, warna-warni citraan yang disuguhkannya... Dunia baru ini tak ubahnya seperti hologram raksasa, yang menyuguhkan jutaan warna dan jutaan citra yang tampak nyata…

Read more...

why don't we..

 Tuesday, June 03, 2008

Ebony And Ivory Live Together In Perfect Harmony
Side By Side On My Piano Keyboard, Oh Lord, Why Don't We?

We All Know That People Are The Same Where Ever You Go
There Is Good And Bad In Ev'ryone,
We Learn To Live, We Learn To Give Each Other
What We Need To Survive Together Alive.

Ebony And Ivory Live Together In Perfect Harmony
Side By Side On My Piano Keyboard, Oh Lord Why Don't We?
Ebony, Ivory Living In Perfect Harmony
Ebony, Ivory, Ooh

Read more...

Ketika Tendangan Maut dan Bogem Mentah FPI Membabi Buta..

 Sunday, June 01, 2008

Lagi-lagi kekerasan…

Tak ada yang lebih memprihatinkan dari sebuah aksi penyerangan yang sarat dengan kekerasan dilakukan oleh sebuah ormas yang mengatasnamakan Islam. Sungguh sungguh memprihatinkan menyaksikan bagaimana para anggota Front Pembela Islam melancarkan kekerasan terhadap para anggota Aliansi Kebebasan Beragama. Islam sebagai agama yang sangat menjunjung tinggi perdamaian, toleransi, dan perbedaan, digunakan sebagai penjustifikasian terhadap aksi brutalisme menyerang pihak yang tidak sepaham.

Bukankah Al-Quran menyerukan untuk tidak memaksa orang dalam urusan agama dan bahkan lebih mengutamakan sikap hormat dalam kehidupan beragama:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Q.S. 49:13

Seterdesak apakah gerangan para anggota FPI sehingga harus melakukan penyerangan yang sarat dengan kekerasan dan brutal seperti itu? Sungguh saya tidak menemukan alasan yang masuk akal di balik penyerangan brutal itu.

Muhammad sebagai Nabi junjungan umat Muslim di seluruh jagat raya tak pernah memberi ‘teladan’ seperti itu. Berkenaan dengan pluralisme, Nabi bersikap dengan suatu penghormatan kepada sesama seperti yang diperintahkan Tuhan. Sikap penghormatan itu didasarkan pada hubungan saling mengenal yang bersifat egaliter, hubungan yang bersifat horizontal dan setara. Hanya Tuhan yang mengetahui apa yang tersimpan di hati seseorang dan seberapa dalam kesalehan seseorang. (Tariq Ramadan)

Seperti halnya dengan tradisi spiritual dan keagamaan, seruan untuk bertemu, berbagi, dan hidup bersama harus selalu didasarkan pada tiga persyaratan berikut: berusaha mengenal satu sama lain, tetap bersikap tulus dan jujur selama bertemu dan berdebat, dan akhirnya, berusaha rendah hati menyangkut klaim kebenaran masing-masing. Itulah ajaran Nabi dalam berhubungan dengan orang-orang beriman dari agama lain. Ada pun argumentasi yang diketengahkan Nabi dilandasi oleh pengetahuan, ketulusan, dan kerendah hatian, yang menjadi tiga syarat penghormatan. (Tariq Ramadan)

Begitulah suasana co-exist tercipta di zaman Rasul. Perbedaan bukan dihadapi dengan aksi-aksi menyerang secara brutal dan tidak manusiawi.

Sungguh teramat memprihatinkan aksi kekerasan dan brutal semacam itu dilakukan atas nama Islam! Allah SWT tidak memerlukan “pembelaan” brutal seperti itu!

Read more...

Mahasiswa atau Preman???!!

 Thursday, May 29, 2008



Sebagai salah satu aksi demo menolak kenaikan BBM, gerombolan mahasiswa menyetop kendaraan plat merah yang kebetulan lewat di hadapan mereka. Beberapa di antaranya menaiki kap mobil, lalu menginjak-injak dan memukul-mukul badan mobil nahas itu sambil berteriak-teriak. Tak cukup begitu aksi corat-coret pun dilancarkan mereka dengan tak kalah beringasnya. Mobil yang dibeli dengan duit rakyat itu pun kini bergrafity. Tulisan “milik rakyat” tertera di hampir seluruh badan mobil.

Seorang bocah lelaki yang kebetulan berada di dalam mobil tsb. terlihat begitu shock dan ketakutan menyaksikan kakak-kakak mahasiswa (atau preman?) itu beraksi. Bocah itu duduk di depan, di samping pengemudi mobil, dengan sangat jelas ia melihat bagaimana kakak-kakak mahasiswa (atau preman?) itu melancarkan aksi premanisme-nya. Sang bocah hanya diam dalam ketakutannya yang amat sangat, mungkin ia berharap ‘mimpi buruk’ itu segera berakhir. Begitu pun dengan sang pengemudi, ia hanya diam dengan raut wajah menahan takut.

Demo pasca kenaikan BBM yang dilancarkan mahasiswa (atau preman?) kerap diberitakan di berbagai media. Alih-alih antusias menyimak malah makin bikin muak. Gatal rasanya jemari ini untuk segera memindahkan channel ke acara lain yang tidak sedang menyuguhkan berita seputar “wacky crazy actions” para mahasiswa (atau preman?) itu.
Kenaikan BBM sudah amat menyesakkan, kini aksi demo premanisme yang dilancarkan mahasiswa (atau premaan?) makin bikin perut mual. Apa gerangan yang ada di kepala mahasiswa-mahasiswa (atau premaaannn?) itu???!!! Jujur, bahkan sebetulnya saya enggan menyebut mereka “mahasiswa”.

Lhaa.. “mahasiswa” koq begitu?

Setahu saya, saat jadi mahasiswa dulu, ada banyak bahan bacaan yang membuat kita merenungkan kehidupan ini, salah satunya menghindarkan diri dari kebodohan yang menyulut aksi premanisme yang menyengsarakan sesama umat manusia lainnya (yang nyata-nyata nggak berdosa). Ilmu itu sarat dengan etika dan moral koq.. lha perguruan tinggi itu kan gudangnya ilmu toh? Nah kalo liat mahasiswa bertindak ala preman seperti itu?? Apa lembaganya yang musti dipertanyakan? Di mana integritas tempat bernama “perguruan tinggi” itu?? Hellloooo??!!!

Ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau hanya menghasilkan tindakan-tindakan brutal macam preman seperti itu. Kalau cuma bisa berdemo ala preman macam begitu sih nggak perlu sekolah tinggi-tinggi, preman kelas teri yang biasa malak di stasiun-stasiun juga bisa.. nggak perlu mengecap bangku kuliah.. Lagipula apa bedanya yang didemo dengan yang mendemo kalo sama-sama menyengsarakan umat.

Mbok ya para mahasiswa berdemolah dengan cerdas, pake akal sehat bukan dengkul.. Kalau sekedar pamer aksi premanisme begitu doang, trust me, kalian hanya buang-buang duit (ortu) aja.. Memang bukan rahasia umum bahwa selulus kuliah nyari kerja itu bisa jadi nggak gampang, tapi toh nggak lantas kalian jadi ‘keledai’ koq!! Kalau pun nantinya jadi pengangguran sesaat, tapi kalau moral dan etika masih bersemayam dalam diri kalian, seorang pejabat dengan pangkat tinggi sekali pun kalau dia korup maka ia tak lebih dari cecunguk yang siap ‘diinjak-injak’ (tanpa perlu diinjak beneran) kaki siapa saja, bahkan kaki seorang pengangguran yang nggak pernah berhenti berusaha..

Kamu mahasiswa bukan sih???!!!!

Read more...

TEBING TAK TAMPAK, JURANG TAK TAMPAK

 Saturday, February 23, 2008

...saya tantang mereka untuk dua hal. Yang pertama kalau aktris dalam film seks itu pemerannya ibu, istri, anak, saudara perempuan atau keponakan perempuan mereka dan bukan aktris lain. Bagaimana perasaan mereka? Tak dijawab. Kepada novelis saya tantang bagaimana jika tokoh dalam novel mereka itu yang melakukan seks bebas itu ibu, anak perempuan,saudara perempuan, atau keponakan kalian. Kemudian buat acara. Bacakan novel itu di tengah keluarga dan lihat bagaimana reaksi mereka? Juga tak dijawab.

Itu adalah cuplikan jawaban penyair besar Indonesia Taufiq Ismail dalam sebuah wawancara dengan wartawan Republika (Siti Darojah Sri Wahyuni dan Amin Madani) yang dimuat di Koran Republika (juga on line) Rabu, 20 Februari 2008 terkait dengan Sidang Mahkamah Konstitusi yang membahas permohonan para sineas muda terkait UU tentang perfilman, utamanya terkait tentang sensor film.

Berikut saya kutipkan hasil wawancara tsb. selengkapnya (plus puisi karya beliau) agar kiranya dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua yang peduli terhadap masa depan bangsa ini.. Semoga bermanfaat!


TEBING TAK TAMPAK, JURANG TAK TAMPAK
(Taufiq Ismail)

Untuk Anak-anak Muda Sineas,
Yang Ingin Bebas Tanpa Batas

Di tepi desa kami ada sebuah tebing yang curam
Menghadap ke jurang yang dalam
Di atas tebing itu ada tanah datar lumayan luasnya
Di sana anak-anak kecil bisa bermain-main leluasa
Berkejar-kejaran, melompat-lompat ke sini dan ke sana
Berteriak-teriak, menjerit-jerit dan tertawa-tawa


Karena penduduk desa cinta pada anak-anak mereka
Masih waras dan tak mau anak-anak celaka
Termasuk juga untuk orang-orang dewasa
Maka di tepi tebing dibikinkan pagar sudah lama
Terbuat dari kayu, tua, terbatas kekuatannya
Agar tidak ada yang kepleset terjatuh ke jurang sana


Tebing itu lima puluh meter tingginya
Batu-batu besar bertabur di dasarnya
Semak dan belukar di tepi-tepinya
Hewan buas dan ular penghuninya
Kalau orang terjatuh ke dalamnya
Akan patah, cedera, cacat dan gegar otaknya


Nah, pada suatu hari
Ada anak-anak ABG berdemonstrasi
Menuntut yang menurut mereka sesuatu yang asasi
Dengan nada yang melengking dan tinggi
Tangan teracung, terayun ke kanan dan ke kiri
Dalam paduan suara yang diusahakan harmoni


"Kami menolak pagar tebing, apa pun bentuknya
Kami menuntut kebebasan sebebas-bebasnya
Bermain, melompat-lompat ke sini dan ke sana
Berkejar-kejaran tak ada batasnya
Apa itu pagar? Kenapa dibatas-batasi?
Tubuh kami ini hak kami
Kami menggunakannya semau hati sendiri
Apa itu pembatasan?
Konsep kuno, melawan kemerdekaan
Cabut itu pagar, semuanya robohkan!"

Demo berlangsung, hiruk-pikuklah terdengar suara
Heboh seantero kampung dan desa
Orang-orang bertanya, ini ada apa
Kok jadi tegang suasana
Barulah situasi jadi agak reda, karena
Ternyata yang berdemo itu, anak-anak rabun dan buta

"Saudara-saudara, ABG-ABG ini jangan dicerca
Mereka punya kelainan dalam instrumen mata
Banyak yang rabun, mungkin juga buta
Kena virus datang dari kota, luar desa kita
Konsep tebing dan jurang, tak masuk akal mereka
Tak tampak bahaya kedua-duanya
Beritahu mereka baik-baik, sabar-sabar senantiasa
Masih banyak urusan lain di desa kita."


Bagaimana Anda bisa terlibat dalam uji materil di MK tentang lembaga sensor film?
Keterlibatan saya di dalam sidang MK itu karena diminta oleh Badan Sensor Film. MK merespons permohonan sejumlah sineas muda untuk meninjau materi tentang sensor. Saya menerimanya karena melihat diktum-diktum yang dituntut sineas muda itu yaitu kebebasan dalam berkreasi itu sudah melampau, sudah berlebihan.

Nah, saya bukan pakar di bidang hukum. Jadi ketika dalam sidang tersebut saya menyampaikan suatu konstatasi bahwa sekarang di tengah masyarakat, dalam masa sesudah 1998 atau masa reformasi terjadi bukan saja perubahan politik tapi juga arus besar yang digerakkan oleh budaya permisif dan adiktif di Tanah Air kita. Tak ada sosok dan organisasinya tapi kerja samanya itu mendunia, kapital raksasa mendanainya, landasan ideologinya neoliberalis dengan banyak media massa jadi pengeras suaranya. Menurut saya ada sepuluh komponen dalam gerakan ini yang jaring pengikatnya adalah syahwat atau seks. Saya menyebutnya Gerakan Syahwat Merdeka.


Apa saja sepuluh komponen itu?
Mereka adalah praktisi sehari-hari seks liar baik yang gratis karena sama-sama suka atau membayar dalam jaringan prostitusi. Yang kedua pembuat film, produser dan pengiklan acara televisi syahwat yang acaranya ditonton 170 juta pemirsa. Ketiga, penerbit majalah dan tabloid mesum tanpa SIUP. Ke empat situs porno di internet. Di dunia ada 4,2 juta situs porno dan 100 ribu di antaranya di Indonesia.


Seorang pengamat sosial di AS berkata bahwa fenomena situs porno di negaranya seperti gelombang tsunami setinggi 10 meter dan melanda seluruh bangsa yang dilawan hanya dengan dua telapak tangan. Mereka saja tak berdaya sama sekali, apalagi kita di Indonesia. Yang kelima produsen dan pengecer VCD film biru di Indonesia. Sekarang Indonesia sorga besar pornografi yang paling murah di dunia. Dulu Rp 30 ribu dan sekarang Rp 3.000. Jumlah VCD bajakan juga tak diketahui pasti namun diperkirakan satu juta keping dalam setahun. Artinya tiap 25 detik satu keping diproduksi. Bukan hanya orang dewasa tapi anak SD dan SMP bebas membelinya.


Kemudian penerbit dan pengedar komik cabul yang sasarannya anak sekolah. Ketujuh penulis novel dan cerpen yang asyik dengan alat kelamin manusia. Terbanyak penulisnya perempuan. Saya memberi julukan mereka itu SMS atau sastra mazhab selangkang seangkatan dengan fiksi alat kelamin (FAK). Kedelapan produsen dan pengedar narkoba yang mencengkeram tiga juta anak dan 40 orang mati sehari karenanya. Beban ekonominya mencapai Rp 11 triliunan. Kesembilan pabrik minuman beralkohol yang menjualnya hingga ke desa-desa dan di kios-kios di depan sekolah dengan harga ribuan perak saja per botol kecil.


Yang berikutnya produsen dan penghisap nikotin. Sehari 156 orang mati karena menghisap karena 26 penyakit akibat nikotin. Mengapa rokok, alkohol dan narkoba saya masukkan ke dalam kelompok ini karena sifat adiktifnya dalam saraf manusia mirip betul dengan pornografi. Dan dalam interaksi antarmanusia yang permisif, antara seks, alkohol, narkoba dan nikotin susah dipisahkan.


Gelombang yang terjadi ini belum kita alami sebelum 1998. Kita lihat poliferasi atau penularan penyakit sifilis, gonorhea, dan HIV AIDS yang luar biasa. Siflis dan Gonorhea ada obatnya tapi HIV belum ditemukan obat yang manjur. Kita lihat juga ada perkosaan terhadap anak-anak kecil. Terjadi pagi hari saat mami dan papinya sudah berangkat kerja dan si embak sedang pergi ke pasar. Yang ada hanya anak lelaki tetangga berusia 9-10 atau tahun yang mengancam anak perempuan tadi saat memperkosa. Ini banyak sekali. Di ujung jalan, dari sepuluh gerakan dan hubungan seks tak wajar ini terjadi aborsi.


Menurut data FK Udayana setiap 15 detik satu bayi meninggal karena jumlahnya per tahun 2,3 juta. Ini pidato saya saat di Akademi Jakarta beberapa tahun silam.
Anak-anak pembuat film itu berada di depan. Dari judul-judulnya sudah nampak. Ada film berjudul 'Maaf Aku Menghamili Istri Anda' dan film yang diprotes Aa Gym itu 'Buruan Cium Gue'. Ada yang membuat saya geleng kepala. Sekarang beredar dengan judul 'Quickie Express'. Ini pasti dibuat oleh anak yang baru tahu bahasa Inggris.
Quickie itu janji kencan antara lelaki dan perempuan untuk berzina saat waktu dan tempat amat terbatas dan dilakukan cepat. Kalau orang tahu artinya dalam bahasa Inggris, pasti terkejut dengan judul film ini. Eh, malah ditambah kata 'Express'. Sudah sampai begitu. Ini anak-anak muda dan mereka pinter-pinter. Waktu saya sepuluh menit di MK. Jadi saya sampaikan puisi saya.

Apakah puisi itu ada dampaknya?
Saya kira ini memberi dampak yang bagus karena yang lain semua bicara soal hukum yang menjemukan. Puisi itu metafora dan simbolisme yang mudah ditangkap. Saya risau betul dengan keadaan ini. LSF sebagai lembaga sensor juga pekerjaanya tidak sempurna banyak kekurangan di sana dan sini. Tapi jangan dibubarkan. Jika dibatasi dengan ukuran jangka umur seperti tuntutan mereka itu, akan berantakan luar biasa kita ini. Sekarang saja kita sudah berantakan apalagi jika tak ada peraturan.

Mengapa tuntutan kebebasan itu banyak dari kalangan seniman?
Kebebasan datang di Indonesia setelah kita direpresi 39 tahun yakni 32 tahun pada Orde Baru dan tujuh tahun masa Orde Lama. Jadi start-nya itu tahun 1959. Ada dua tahun setelah 1965 yang cukup baik tapi disusul 32 tahun represi yang luar biasa di semua bidang politik budaya keamaan. Arus itu jebol tahun 1998 saat reformasi. Termasuk bidang seni budaya.


Tapi arus yang sedemikian parah ini apakah juga melanda negara tetangga seperti Malaysia?
Tidak. Demokrasi mereka tak seperti kita. Banyak orang cemburu dengan kita karena orang boleh bicara apa saja tanpa takut ditangkap. Di singapura dan Malaysia ada batas-batas karena masih ada Internal Security Act, seperti kita pada Orde Baru dan Lama. Sekarang bablas semua.


Kekeliruan kita adalah karena pada 1998 tidak ditaruh pancang-pancang untuk membendung air bah. Jika kita lihat pada 1999, 2000 tabloid-tabloid mesum luar biasa beredar. Yang mengiklankan seks itu juga luar biasa lengkap dengan nomor telepon, tempat dan alat-alatnya. Sudah tak ada lagi instrumen yang membatasi. Di bidang film sineas muda merasa masih ada yang membatasi. Kemudian mereka berkumpul dan inilah yang terjadi.


Banyak sineas mengatakan di luar negeri juga ada sensor. Lalu dari mana gagasan sineas muda ini menuntut kebebasan yang seluas-luasnya?
Ya itu tadi, karena air bah yang tujuh-delapan tahun mengalir deras. Mereka bertengger di atas air bah dan menuntut kebebasan yang lebih maksimal lagi. Mereka tak puas dengan yang ada sekarang dan menuntut yang lebih lagi.


Sebagai budayawan, bagaimana perasaan Anda dengan situasi ini?
Saya amat risau. Galau betul rasanya.

Jadi, kita seperti sedang kehilangan nasionalisme?
Ya. Banyak sekali nilai yang dilanggar dan semuanya melampau atau menjadi sangat ekstrem. Ini ciri orang neoliberal. Apa yang menghalangi mereka disebut sebagai tabu. Dan sebuah tindak kepahlawanan apabila tabu itu bisa didobrak. Mereka akan dapat tepuk tangan yang hebat. Nah peraturan ini dianggap sebagai tabu.

Kembali ke dunia film. LSF saja saat ini kelabakan karena bukan hanya film layar lebar tapi sinetron di televisi yang jumlahnya bukan lagi berpuluh tapi beratus-ratus. Mereka kelabakan dan menggapai-gapai. Jadi memang cara kerjanya harus diatur.


Apa ada kaitan dengan kegagalan pengajaran moral di sekolah?
Ini berangkai-rangkai. Dampak pengajaran agama di sekolah itu tak seberapa. Reformasi yang menjadi faktor utama. Amin Rais dan tokoh reformasi pasti tidak menyangka bahwa negara kita seperti ini jadinya. Ini membuat negara tetangga iri sekali.

Seorang teman di Malaysia menceritakan keheranannya. Kata dia di Indonesia itu kok yang suka berlucah-lucah (menulis kisah cabul) itu perempuan. Di Malaysia ada juga tapi lelaki. Mereka bertanya apa sebab? Saya katakan rasa malu yang sudah hilang. Mereka juga heran melihat novel-novel kita yaitu sastra mazhab selangkang yang asyik betul dengan syahwat, yang ketika keluar dipuja-puji dan diberi tepuk tangan. Maka itu dalam pidato saya sampaikan bagaimana membangkitkan rasa malu.


Bukankah karya sastra atau seni itu potret kehidupan masyarakat nyata?
Betul. Tapi, saya tantang mereka untuk dua hal. Yang pertama kalau aktris dalam film seks itu pemerannya ibu, istri, anak, saudara perempuan atau keponakan perempuan mereka dan bukan aktris lain. Bagaimana perasaan mereka? Tak dijawab.


Kepada novelis saya tantang bagaimana jika tokoh dalam novel mereka itu yang melakukan seks bebas itu ibu, anak perempuan,saudara perempuan, atau keponakan kalian. Kemudian buat acara. Bacakan novel itu di tengah keluarga dan lihat bagaimana reaksi mereka? Kemudian kumpulkan orang pengajian, guru, tokoh dan bacakan pula isi novel itu dan tunggu reaksi mereka. Juga tidak dijawab.


Kepada majalah porno yang modalnya dari AS saya tantang bagaimana jika modelnya itu anak perempuan, saudara, ibu, istri atau keponakannya. Juga tidak dijawab. Karena ini semua menyangkut malu. Jika orang ini tak malu pasti mereka sakit jiwa dan menjadi urusan psikiater. Kepada sineas yang membuat film alat kelamin ini saya tantang untuk membuat film tentang kemiskinan. Ada 30 juta penduduk Indonesia miskin dan 70 juta orang menganggur. Mereka tidak menjawab. Juga satu lagi tantangan saya buat film tentang kebodohan. Ada 13 juta anak Indonesia tidak bisa sekolah karena tidak mampu. Mau ke mana mereka nantinya. Ini problem besar yang harus dicarikan solusinya.


Sepertinya ini jadi konflik antara budayawan lama dan angkatan muda. Masih ada yang karyanya mencerminkan kebaikan?
Banyak sekali. Lihat Forum Lingkar Pena yang anggotanya ribuan dan cabangnya ratusan di daerah. Karya mereka baik tapi tidak tercover media massa. Bukan lantas saya pesimistis.


Nyatanya memang media cenderung neoliberal?
Ya, karena modalnya dari sana. Mereka di belakang gerakan syahwat merdeka yang di baliknya ada Amerika dengan nilai triliunan dan berkaitan dengan narkoba. Saya diceritakan film tentang perjalanan anak muda di Yogya. Mereka berhubundan seks menghisap narkoba dan ditunjukkan jelas bagaimana cara menggunakann alat hisap narkoba itu. Ini kan namanya kerja sama. Sepuluh komponen yang bekerja sama.

Apa yang Bapak lakukan untuk menghalau arus ini?
Saya mengingatkan. Itu kewajiban saya. Saya bicara kuantitatif dengan angka-angka untuk meyakinkan orang tentang aborsi, jumlah VCD. Saya bukan bagian dari bikrokrasi yang bisa memutuskan melalui kebijakan. Karena itu saya berterima kasih jika Republika masih mau menyuarakan ini.

Anak muda kita juga sepertinya tak lagi mengenal karya sastra lama yang menjadi bekal?
Betul. Itulah pengajaran sastra di sekolah harus sama-sama diperbaiki. Saya memang sudah mulai kegiatan Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB). Kami jalan ke 213 sekolah, 164 kota, dan membuat 133 sastrawan di 33 provinsi dan mencetak seratus aktor dan aktris. Ini untuk meningkatkan kebiasaan membaca buku, dan berlatih menulis dan apresiasi sastra. Bagaimana sekarang anak sekolah tidak membaca.


Ini perbandingan buku yang wajib dibaca dalam waktu tiga tahun di sekolah di mana disediakan buku di perpustakaan. Di Thailand Selatan siswa membaca lima judul, di Malaysia enam judul, Rusia 12, Kanada 13 judul, di Jepang 15, di Swis 15 judul dan Jerman 22, di Prancis 20 buku, Belanda 20, di Amerika 30 judul dan di Indonesia nol baik di desa-kota sejak 1983-2006.


Saya sedih mendengarnya karena harusnya mereka tahu Hamzah Fansuri, Amir Hamzah. Bukan salah mereka tapi sistem.

Dulu, saya hanya mengeritik dan menendang-nendang tapi kini saya menggerakkan dengan turun ke kota-kota. Ini saja sudah masalah besar sekarang datang lagi masalah ini. Saya juga baru kembali dari Padang, ada seorang wartawan membuat kuisoner tentang internet masuk sekolah. Hasilnya, 51 persen dari anak sekolah melihat situs porno.


Bayangkan itu akibat internet masuk sekolah. Itu anak usia 15-17 tahun melihat aurat yang tidak haknya. Tapi bukan hanya melihat tapi melihat bagaimana aurat itu difungsikan.
Tiga tahun lalu saya bicara dengan Menkominfor yang waktu itu masih Sofyan Jalil. Depdiknas dengan bangga mengumumkan internet masuk sekolah. Dalam hati saya katakan jangan-jangan aduh bahaya. Nanti jika saya ditanya, oleh Allah di Yaumul Hisab saya sudah katakan saya sudah menyampaikannya.

Read more...

Sang Jenderal..

 Tuesday, January 08, 2008



Tak bisa dipungkiri, jasa-jasa sang Jenderal terhadap bangsa ini tidak sedikit.. Meski akhirnya semua kesalahan yang pernah beliau lakukan juga menuai cerca, apalagi proses hukum juga berjalan tersendat.. Tentulah ini makin membuat geram siapa saja yang merindukan kebenaran dan keadilan.

Usia semakin senja, kesehatan pun makin menurun.. apalah arti hidup di dunia yang sebentar ini, toh kehidupan abadi sesungguhnya adalah nanti setelah mati.. Apakah sisa hidup yang mungkin tak lagi seberapa akan terus diisi dengan kelitan demi kelitan menghindari hukum keadilan di dunia.. padahal kebaikan hidup di dunia akan menjadi bekal di akherat kelak..

Tuhan sang Penguasa alam ini adalah juga sang Maha Pengampun.. Siapa saja umat manusia yang mengakui kesalahan atau kekhilafannya dan bertobat dengan sungguh-sungguh, maka Tuhan menjanjikan pengampunan yang tiada tara. Apa sesungguhnya yang didambakan dari kehidupan fana yang tak lama kita singgahi ini, selain tentunya kebaikan yang mustinya kita torehkan di sini.. bukannya berbuat zalim dan menyengsarakan umat yang lain. Meski di atas kezaliman barangkali kita memperoleh kenikmatan dunia.. popularitas, kekayaan, kedudukan, atau kekuasaan, tapi apalah artinya jika ketenangan batin dan jiwa tak kita dapatkan.

Legowo berarti juga berani mendudukan setiap perkara pada tempatnya. Apapun dan di mana pun tempat itu berada, sikap legowo selalu bernilai luhur.. Meski tampuk kekuasaan dan kedudukan tinggi tak lagi dipegang, namun sikap legowo selalu menaruh seseorang pada posisi luhur sebagai manusia yang arif dan bijaksana..

Semoga kepasrahan total pada Yang Maha Kuasa menghampiri sang Jenderal agar ketenangan batin dan jiwa senantiasa menaungi kehidupan beliau di dunia maupun di akherat kelak.. dan bangsa ini tumbuh menjadi bangsa yang arif dan bijaksana, menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan.. Semoga lekas sembuh Jenderal!

(*pic taken from here )


Read more...

Dinar Irak bakal melambung?

 Sunday, December 02, 2007

Belum lama ini ada rumor menyebutkan nilai dinar bakal melambung. Tak pelak, orang-orang yang doyan berinvestasi pada mata uang asing tergiur untuk ramai-ramai memborong mata uang Irak ini.

Slow down.. jangan buru-buru lah!!! This is absolutely such a big speculation. Koq bisa sih begitu saja yakin??!!! Coba lihat situasi dan kondisi Iraq sekarang ini? Bisa dibilang Iraq kini sedang di ambang “kehancuran”!! Situasi politik yang kacau balau, bom bertebaran di sana-sini, bagaimana mungkin situasi ekonominya bisa stabil?? Meskipun ada banyak tambang minyak di sana, tapi kalo system politik, pertahanan dan keamanannya kacau balau, teuteup aja ngga bisa menjamin!

Well, ok deh saya bukan ahli Ekonomi, tapi at least harus tau dong bahwa situasi politik, pertahanan dan keamanan suatu Negara sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi Negara tersebut, begitu juga terhadap nilai mata uangnya!

Kebetulan dalam kolom konsultasi Perencanaan Keuangan Keluarga yang diasuh Ahmad Gozali dari Biro Keuangan Safir Senduk di H.U. Republika, minggu ini, issue tersebut dibahas. Saya kutipkan di sini, semoga bermanfaat..

Pertanyaan:
1. Menurut Mas Gozali, apakah dinar Iraq akan betul-betul bisa mencapai 1 dinar Iraq = 1 dollar AS pada waktu mendatang, dengan melihat kondisi Iraq saat ini yang sedang dalam kondisi tidak menentu, namun potensi ekonomi dari minyak sangat besar.

2. Saya sebetulnya tertarik untuk membeli dinar. Bayangkan, andaikan 1 dinar Iraq bisa mencapai 1 dolar AS, betapa besar keuntungan yang akan diperoleh. Menurut Mas Gozali sendiri bagaimana?

Jawaban:
Memang betul, saat ini ada beberapa pihak yang gencar memasarkan penjualan mata uang dinar Iraq. Yang dimaksud dengan dinar Iraq ini adalah mata uang baru Negara Iraq sebagai pengganti mata uang dinar lama buatan pemerintahan Saddam Husein. Mata uang ini masih belum dipasarkan secara resmi di perdagangan mata uang internasional.

Saat ini pun nilainya masih sangat rendah, namun diklaim akan punya nilai yang sangat tinggi nantinya. Karena Negara Iraq sebetulnya punya potensi yang luar biasa dari hasil minyak bumi. Prediksi dari para penjual dinar Iraq itu adalah nilainya bisa melambung luar biasa naik ketika pemerintahan Iraq sudah stabil dan Iraq bisa mengekspor minyaknya ke luar negeri.

Begitulah yang disampaikan oleh para penjual dinar Iraq untuk menggaet calon konsumen yang akan membelinya. Namun, perlu saya pertegas bahwa nilai mata uang suatu negara bukan hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, tapi juga kondisi politiknya. Mungkin secara ekonomi, Iraq bisa kembali menjadi Negara kaya karena sumber minyaknya yang besar. Namun, secara politik, sumber minyak itu akan percuma saja jika negaranya masih dalam kondisi terjajah seperti sekarang ini.

Sehingga investasi ini tidak saya rekomendasikan, karena sangat besar unsur spekulasinya. Karena bisa saja pemerintah penjajah saat ini mengganti mata uangnya dengan mata uang lain, atau mungkin saja pemerintahan Iraq yang baru membuat mata uang baru lagi. Dan karena mata uang ini belum dijual secara resmi dalam perdagangan mata uang internasional, maka dapat dipastikan mata uang ini adalah ‘selundupan’ dan tidak ada yang bisa menjamin keasliannya.

Pada kenyataannya pun, yang sekarang ini banyak menjual mata uang dinar Iraq adalah para pedagang yang membeli murah, melempar isu agar harganya naik, lalu menjualnya lagi kepada orang lain. Mereka sendiri tidak berani menunggu lama sampai mata uang tersebut benar-benar tinggi nilainya setelah nanti resmi diperdagangkan.

Read more...