Saturday, May 03, 2008

Arogansi Intelektual versus Ibu


…dalam sebuah kunjungan membesuk seorang kawan yang baru saja melahirkan putra pertamanya sore kemarin, tiba-tiba saja kami seolah disentil.. disadarkan akan perilaku yang bisa jadi dipandang Ibu (iya Ibu, yang melahirkan kami) sebagai sebuah arogansi..

Sang kawan bercerita panjang lebar pengalaman pertamanya melahirkan.. rasa sakit yang ia dera.. dan kami termanggut-manggut berusaha memahami, mengerti keadaannya serta sesekali bertanya hal yang belum pernah kami alami sepanjang hidup kami itu. Seorang Ibu yang juga sama-sama sedang membesuk kawan kami itu dengan cermat menyimpulkan bahwa kami adalah perempuan-perempuan lajang..

Ketidakberpengalaman kami rupanya lebih jelas menunjukkan status kami ketimbang pengetahuan yang kami dalami dari berbagai sumber untuk menghindarkan diri dari suatu alienasi akan sebuah rute yang belum kami tempuh .. Si Ibu pun mafhum.. dan ia mengingatkan bahwa dalam proses kehamilan dan melahirkan.. Kekuatan peran Ibu (iya Ibu, yang melahirkan kami) akan lebih kuat dirasakan, dan ketika itu pula kita tersadarkan kecongkakan kita, seorang anak yang baru saja mendapat pengetahuan baru tentang dunia dari ‘guru besar’ bernama bangku sekolah.. Sebuah arogansi entelektual yang mengecilkan peran Ibu (iya Ibu, yang melahirkan kami) dengan kesederhanaannya menerjemahkan kasih sayangnya yang dalam…

"Pokonya inget aja, kalo mau melahirkan kita harus sering-sering mohon maaf pada Ibu.. insya Allah lancar." Lugasnya. Kami, tiga perempuan lajang saling bertatapan.. Kami, tiga sahabat, para perempuan lajang yang membawa-bawa gagasan intelektual kerap memprotes pandangan yang kami pandang tidak moderat, kolot, yang kerap digunakan Ibu (iya Ibu, yang melahirkan kami) dalam kesederhanaannya mengungkapkan kasih sayangnya yang dalam..

Si Ibu itu pun mafhum.. ia terlihat tulus berempati pada polah kami. Belakangan aku sadari profil perempuan yang memberi wejangan itu pernah kubaca di sebuah Harian Umum.. Ia senior di fakultas kami.. Direktur sebuah penerbit buku di Bandung, yang kesuksesan karirnya tak lepas dari peran Ibu (iya Ibu, yang melahirkannya) yang dulu kerap ia protes kebijakannya, karena sebuah arogansi intelektual..
p.s. terima kasih untuk diingatkan..
pic taken from here

| -->non blogger

Saturday, February 23, 2008

TEBING TAK TAMPAK, JURANG TAK TAMPAK

...saya tantang mereka untuk dua hal. Yang pertama kalau aktris dalam film seks itu pemerannya ibu, istri, anak, saudara perempuan atau keponakan perempuan mereka dan bukan aktris lain. Bagaimana perasaan mereka? Tak dijawab. Kepada novelis saya tantang bagaimana jika tokoh dalam novel mereka itu yang melakukan seks bebas itu ibu, anak perempuan,saudara perempuan, atau keponakan kalian. Kemudian buat acara. Bacakan novel itu di tengah keluarga dan lihat bagaimana reaksi mereka? Juga tak dijawab.

Itu adalah cuplikan jawaban penyair besar Indonesia Taufiq Ismail dalam sebuah wawancara dengan wartawan Republika (Siti Darojah Sri Wahyuni dan Amin Madani) yang dimuat di Koran Republika (juga on line) Rabu, 20 Februari 2008 terkait dengan Sidang Mahkamah Konstitusi yang membahas permohonan para sineas muda terkait UU tentang perfilman, utamanya terkait tentang sensor film.

Berikut saya kutipkan hasil wawancara tsb. selengkapnya (plus puisi karya beliau) agar kiranya dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua yang peduli terhadap masa depan bangsa ini.. Semoga bermanfaat!


TEBING TAK TAMPAK, JURANG TAK TAMPAK
(Taufiq Ismail)

Untuk Anak-anak Muda Sineas,
Yang Ingin Bebas Tanpa Batas

Di tepi desa kami ada sebuah tebing yang curam
Menghadap ke jurang yang dalam
Di atas tebing itu ada tanah datar lumayan luasnya
Di sana anak-anak kecil bisa bermain-main leluasa
Berkejar-kejaran, melompat-lompat ke sini dan ke sana
Berteriak-teriak, menjerit-jerit dan tertawa-tawa


Karena penduduk desa cinta pada anak-anak mereka
Masih waras dan tak mau anak-anak celaka
Termasuk juga untuk orang-orang dewasa
Maka di tepi tebing dibikinkan pagar sudah lama
Terbuat dari kayu, tua, terbatas kekuatannya
Agar tidak ada yang kepleset terjatuh ke jurang sana


Tebing itu lima puluh meter tingginya
Batu-batu besar bertabur di dasarnya
Semak dan belukar di tepi-tepinya
Hewan buas dan ular penghuninya
Kalau orang terjatuh ke dalamnya
Akan patah, cedera, cacat dan gegar otaknya


Nah, pada suatu hari
Ada anak-anak ABG berdemonstrasi
Menuntut yang menurut mereka sesuatu yang asasi
Dengan nada yang melengking dan tinggi
Tangan teracung, terayun ke kanan dan ke kiri
Dalam paduan suara yang diusahakan harmoni


"Kami menolak pagar tebing, apa pun bentuknya
Kami menuntut kebebasan sebebas-bebasnya
Bermain, melompat-lompat ke sini dan ke sana
Berkejar-kejaran tak ada batasnya
Apa itu pagar? Kenapa dibatas-batasi?
Tubuh kami ini hak kami
Kami menggunakannya semau hati sendiri
Apa itu pembatasan?
Konsep kuno, melawan kemerdekaan
Cabut itu pagar, semuanya robohkan!"

Demo berlangsung, hiruk-pikuklah terdengar suara
Heboh seantero kampung dan desa
Orang-orang bertanya, ini ada apa
Kok jadi tegang suasana
Barulah situasi jadi agak reda, karena
Ternyata yang berdemo itu, anak-anak rabun dan buta

"Saudara-saudara, ABG-ABG ini jangan dicerca
Mereka punya kelainan dalam instrumen mata
Banyak yang rabun, mungkin juga buta
Kena virus datang dari kota, luar desa kita
Konsep tebing dan jurang, tak masuk akal mereka
Tak tampak bahaya kedua-duanya
Beritahu mereka baik-baik, sabar-sabar senantiasa
Masih banyak urusan lain di desa kita."


Bagaimana Anda bisa terlibat dalam uji materil di MK tentang lembaga sensor film?
Keterlibatan saya di dalam sidang MK itu karena diminta oleh Badan Sensor Film. MK merespons permohonan sejumlah sineas muda untuk meninjau materi tentang sensor. Saya menerimanya karena melihat diktum-diktum yang dituntut sineas muda itu yaitu kebebasan dalam berkreasi itu sudah melampau, sudah berlebihan.

Nah, saya bukan pakar di bidang hukum. Jadi ketika dalam sidang tersebut saya menyampaikan suatu konstatasi bahwa sekarang di tengah masyarakat, dalam masa sesudah 1998 atau masa reformasi terjadi bukan saja perubahan politik tapi juga arus besar yang digerakkan oleh budaya permisif dan adiktif di Tanah Air kita. Tak ada sosok dan organisasinya tapi kerja samanya itu mendunia, kapital raksasa mendanainya, landasan ideologinya neoliberalis dengan banyak media massa jadi pengeras suaranya. Menurut saya ada sepuluh komponen dalam gerakan ini yang jaring pengikatnya adalah syahwat atau seks. Saya menyebutnya Gerakan Syahwat Merdeka.


Apa saja sepuluh komponen itu?
Mereka adalah praktisi sehari-hari seks liar baik yang gratis karena sama-sama suka atau membayar dalam jaringan prostitusi. Yang kedua pembuat film, produser dan pengiklan acara televisi syahwat yang acaranya ditonton 170 juta pemirsa. Ketiga, penerbit majalah dan tabloid mesum tanpa SIUP. Ke empat situs porno di internet. Di dunia ada 4,2 juta situs porno dan 100 ribu di antaranya di Indonesia.


Seorang pengamat sosial di AS berkata bahwa fenomena situs porno di negaranya seperti gelombang tsunami setinggi 10 meter dan melanda seluruh bangsa yang dilawan hanya dengan dua telapak tangan. Mereka saja tak berdaya sama sekali, apalagi kita di Indonesia. Yang kelima produsen dan pengecer VCD film biru di Indonesia. Sekarang Indonesia sorga besar pornografi yang paling murah di dunia. Dulu Rp 30 ribu dan sekarang Rp 3.000. Jumlah VCD bajakan juga tak diketahui pasti namun diperkirakan satu juta keping dalam setahun. Artinya tiap 25 detik satu keping diproduksi. Bukan hanya orang dewasa tapi anak SD dan SMP bebas membelinya.


Kemudian penerbit dan pengedar komik cabul yang sasarannya anak sekolah. Ketujuh penulis novel dan cerpen yang asyik dengan alat kelamin manusia. Terbanyak penulisnya perempuan. Saya memberi julukan mereka itu SMS atau sastra mazhab selangkang seangkatan dengan fiksi alat kelamin (FAK). Kedelapan produsen dan pengedar narkoba yang mencengkeram tiga juta anak dan 40 orang mati sehari karenanya. Beban ekonominya mencapai Rp 11 triliunan. Kesembilan pabrik minuman beralkohol yang menjualnya hingga ke desa-desa dan di kios-kios di depan sekolah dengan harga ribuan perak saja per botol kecil.


Yang berikutnya produsen dan penghisap nikotin. Sehari 156 orang mati karena menghisap karena 26 penyakit akibat nikotin. Mengapa rokok, alkohol dan narkoba saya masukkan ke dalam kelompok ini karena sifat adiktifnya dalam saraf manusia mirip betul dengan pornografi. Dan dalam interaksi antarmanusia yang permisif, antara seks, alkohol, narkoba dan nikotin susah dipisahkan.


Gelombang yang terjadi ini belum kita alami sebelum 1998. Kita lihat poliferasi atau penularan penyakit sifilis, gonorhea, dan HIV AIDS yang luar biasa. Siflis dan Gonorhea ada obatnya tapi HIV belum ditemukan obat yang manjur. Kita lihat juga ada perkosaan terhadap anak-anak kecil. Terjadi pagi hari saat mami dan papinya sudah berangkat kerja dan si embak sedang pergi ke pasar. Yang ada hanya anak lelaki tetangga berusia 9-10 atau tahun yang mengancam anak perempuan tadi saat memperkosa. Ini banyak sekali. Di ujung jalan, dari sepuluh gerakan dan hubungan seks tak wajar ini terjadi aborsi.


Menurut data FK Udayana setiap 15 detik satu bayi meninggal karena jumlahnya per tahun 2,3 juta. Ini pidato saya saat di Akademi Jakarta beberapa tahun silam.
Anak-anak pembuat film itu berada di depan. Dari judul-judulnya sudah nampak. Ada film berjudul 'Maaf Aku Menghamili Istri Anda' dan film yang diprotes Aa Gym itu 'Buruan Cium Gue'. Ada yang membuat saya geleng kepala. Sekarang beredar dengan judul 'Quickie Express'. Ini pasti dibuat oleh anak yang baru tahu bahasa Inggris.
Quickie itu janji kencan antara lelaki dan perempuan untuk berzina saat waktu dan tempat amat terbatas dan dilakukan cepat. Kalau orang tahu artinya dalam bahasa Inggris, pasti terkejut dengan judul film ini. Eh, malah ditambah kata 'Express'. Sudah sampai begitu. Ini anak-anak muda dan mereka pinter-pinter. Waktu saya sepuluh menit di MK. Jadi saya sampaikan puisi saya.

Apakah puisi itu ada dampaknya?
Saya kira ini memberi dampak yang bagus karena yang lain semua bicara soal hukum yang menjemukan. Puisi itu metafora dan simbolisme yang mudah ditangkap. Saya risau betul dengan keadaan ini. LSF sebagai lembaga sensor juga pekerjaanya tidak sempurna banyak kekurangan di sana dan sini. Tapi jangan dibubarkan. Jika dibatasi dengan ukuran jangka umur seperti tuntutan mereka itu, akan berantakan luar biasa kita ini. Sekarang saja kita sudah berantakan apalagi jika tak ada peraturan.

Mengapa tuntutan kebebasan itu banyak dari kalangan seniman?
Kebebasan datang di Indonesia setelah kita direpresi 39 tahun yakni 32 tahun pada Orde Baru dan tujuh tahun masa Orde Lama. Jadi start-nya itu tahun 1959. Ada dua tahun setelah 1965 yang cukup baik tapi disusul 32 tahun represi yang luar biasa di semua bidang politik budaya keamaan. Arus itu jebol tahun 1998 saat reformasi. Termasuk bidang seni budaya.


Tapi arus yang sedemikian parah ini apakah juga melanda negara tetangga seperti Malaysia?
Tidak. Demokrasi mereka tak seperti kita. Banyak orang cemburu dengan kita karena orang boleh bicara apa saja tanpa takut ditangkap. Di singapura dan Malaysia ada batas-batas karena masih ada Internal Security Act, seperti kita pada Orde Baru dan Lama. Sekarang bablas semua.


Kekeliruan kita adalah karena pada 1998 tidak ditaruh pancang-pancang untuk membendung air bah. Jika kita lihat pada 1999, 2000 tabloid-tabloid mesum luar biasa beredar. Yang mengiklankan seks itu juga luar biasa lengkap dengan nomor telepon, tempat dan alat-alatnya. Sudah tak ada lagi instrumen yang membatasi. Di bidang film sineas muda merasa masih ada yang membatasi. Kemudian mereka berkumpul dan inilah yang terjadi.


Banyak sineas mengatakan di luar negeri juga ada sensor. Lalu dari mana gagasan sineas muda ini menuntut kebebasan yang seluas-luasnya?
Ya itu tadi, karena air bah yang tujuh-delapan tahun mengalir deras. Mereka bertengger di atas air bah dan menuntut kebebasan yang lebih maksimal lagi. Mereka tak puas dengan yang ada sekarang dan menuntut yang lebih lagi.


Sebagai budayawan, bagaimana perasaan Anda dengan situasi ini?
Saya amat risau. Galau betul rasanya.

Jadi, kita seperti sedang kehilangan nasionalisme?
Ya. Banyak sekali nilai yang dilanggar dan semuanya melampau atau menjadi sangat ekstrem. Ini ciri orang neoliberal. Apa yang menghalangi mereka disebut sebagai tabu. Dan sebuah tindak kepahlawanan apabila tabu itu bisa didobrak. Mereka akan dapat tepuk tangan yang hebat. Nah peraturan ini dianggap sebagai tabu.

Kembali ke dunia film. LSF saja saat ini kelabakan karena bukan hanya film layar lebar tapi sinetron di televisi yang jumlahnya bukan lagi berpuluh tapi beratus-ratus. Mereka kelabakan dan menggapai-gapai. Jadi memang cara kerjanya harus diatur.


Apa ada kaitan dengan kegagalan pengajaran moral di sekolah?
Ini berangkai-rangkai. Dampak pengajaran agama di sekolah itu tak seberapa. Reformasi yang menjadi faktor utama. Amin Rais dan tokoh reformasi pasti tidak menyangka bahwa negara kita seperti ini jadinya. Ini membuat negara tetangga iri sekali.

Seorang teman di Malaysia menceritakan keheranannya. Kata dia di Indonesia itu kok yang suka berlucah-lucah (menulis kisah cabul) itu perempuan. Di Malaysia ada juga tapi lelaki. Mereka bertanya apa sebab? Saya katakan rasa malu yang sudah hilang. Mereka juga heran melihat novel-novel kita yaitu sastra mazhab selangkang yang asyik betul dengan syahwat, yang ketika keluar dipuja-puji dan diberi tepuk tangan. Maka itu dalam pidato saya sampaikan bagaimana membangkitkan rasa malu.


Bukankah karya sastra atau seni itu potret kehidupan masyarakat nyata?
Betul. Tapi, saya tantang mereka untuk dua hal. Yang pertama kalau aktris dalam film seks itu pemerannya ibu, istri, anak, saudara perempuan atau keponakan perempuan mereka dan bukan aktris lain. Bagaimana perasaan mereka? Tak dijawab.


Kepada novelis saya tantang bagaimana jika tokoh dalam novel mereka itu yang melakukan seks bebas itu ibu, anak perempuan,saudara perempuan, atau keponakan kalian. Kemudian buat acara. Bacakan novel itu di tengah keluarga dan lihat bagaimana reaksi mereka? Kemudian kumpulkan orang pengajian, guru, tokoh dan bacakan pula isi novel itu dan tunggu reaksi mereka. Juga tidak dijawab.


Kepada majalah porno yang modalnya dari AS saya tantang bagaimana jika modelnya itu anak perempuan, saudara, ibu, istri atau keponakannya. Juga tidak dijawab. Karena ini semua menyangkut malu. Jika orang ini tak malu pasti mereka sakit jiwa dan menjadi urusan psikiater. Kepada sineas yang membuat film alat kelamin ini saya tantang untuk membuat film tentang kemiskinan. Ada 30 juta penduduk Indonesia miskin dan 70 juta orang menganggur. Mereka tidak menjawab. Juga satu lagi tantangan saya buat film tentang kebodohan. Ada 13 juta anak Indonesia tidak bisa sekolah karena tidak mampu. Mau ke mana mereka nantinya. Ini problem besar yang harus dicarikan solusinya.


Sepertinya ini jadi konflik antara budayawan lama dan angkatan muda. Masih ada yang karyanya mencerminkan kebaikan?
Banyak sekali. Lihat Forum Lingkar Pena yang anggotanya ribuan dan cabangnya ratusan di daerah. Karya mereka baik tapi tidak tercover media massa. Bukan lantas saya pesimistis.


Nyatanya memang media cenderung neoliberal?
Ya, karena modalnya dari sana. Mereka di belakang gerakan syahwat merdeka yang di baliknya ada Amerika dengan nilai triliunan dan berkaitan dengan narkoba. Saya diceritakan film tentang perjalanan anak muda di Yogya. Mereka berhubundan seks menghisap narkoba dan ditunjukkan jelas bagaimana cara menggunakann alat hisap narkoba itu. Ini kan namanya kerja sama. Sepuluh komponen yang bekerja sama.

Apa yang Bapak lakukan untuk menghalau arus ini?
Saya mengingatkan. Itu kewajiban saya. Saya bicara kuantitatif dengan angka-angka untuk meyakinkan orang tentang aborsi, jumlah VCD. Saya bukan bagian dari bikrokrasi yang bisa memutuskan melalui kebijakan. Karena itu saya berterima kasih jika Republika masih mau menyuarakan ini.

Anak muda kita juga sepertinya tak lagi mengenal karya sastra lama yang menjadi bekal?
Betul. Itulah pengajaran sastra di sekolah harus sama-sama diperbaiki. Saya memang sudah mulai kegiatan Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB). Kami jalan ke 213 sekolah, 164 kota, dan membuat 133 sastrawan di 33 provinsi dan mencetak seratus aktor dan aktris. Ini untuk meningkatkan kebiasaan membaca buku, dan berlatih menulis dan apresiasi sastra. Bagaimana sekarang anak sekolah tidak membaca.


Ini perbandingan buku yang wajib dibaca dalam waktu tiga tahun di sekolah di mana disediakan buku di perpustakaan. Di Thailand Selatan siswa membaca lima judul, di Malaysia enam judul, Rusia 12, Kanada 13 judul, di Jepang 15, di Swis 15 judul dan Jerman 22, di Prancis 20 buku, Belanda 20, di Amerika 30 judul dan di Indonesia nol baik di desa-kota sejak 1983-2006.


Saya sedih mendengarnya karena harusnya mereka tahu Hamzah Fansuri, Amir Hamzah. Bukan salah mereka tapi sistem.

Dulu, saya hanya mengeritik dan menendang-nendang tapi kini saya menggerakkan dengan turun ke kota-kota. Ini saja sudah masalah besar sekarang datang lagi masalah ini. Saya juga baru kembali dari Padang, ada seorang wartawan membuat kuisoner tentang internet masuk sekolah. Hasilnya, 51 persen dari anak sekolah melihat situs porno.


Bayangkan itu akibat internet masuk sekolah. Itu anak usia 15-17 tahun melihat aurat yang tidak haknya. Tapi bukan hanya melihat tapi melihat bagaimana aurat itu difungsikan.
Tiga tahun lalu saya bicara dengan Menkominfor yang waktu itu masih Sofyan Jalil. Depdiknas dengan bangga mengumumkan internet masuk sekolah. Dalam hati saya katakan jangan-jangan aduh bahaya. Nanti jika saya ditanya, oleh Allah di Yaumul Hisab saya sudah katakan saya sudah menyampaikannya.

| -->non blogger

Tuesday, January 08, 2008

Sang Jenderal..



Tak bisa dipungkiri, jasa-jasa sang Jenderal terhadap bangsa ini tidak sedikit.. Meski akhirnya semua kesalahan yang pernah beliau lakukan juga menuai cerca, apalagi proses hukum juga berjalan tersendat.. Tentulah ini makin membuat geram siapa saja yang merindukan kebenaran dan keadilan.

Usia semakin senja, kesehatan pun makin menurun.. apalah arti hidup di dunia yang sebentar ini, toh kehidupan abadi sesungguhnya adalah nanti setelah mati.. Apakah sisa hidup yang mungkin tak lagi seberapa akan terus diisi dengan kelitan demi kelitan menghindari hukum keadilan di dunia.. padahal kebaikan hidup di dunia akan menjadi bekal di akherat kelak..

Tuhan sang Penguasa alam ini adalah juga sang Maha Pengampun.. Siapa saja umat manusia yang mengakui kesalahan atau kekhilafannya dan bertobat dengan sungguh-sungguh, maka Tuhan menjanjikan pengampunan yang tiada tara. Apa sesungguhnya yang didambakan dari kehidupan fana yang tak lama kita singgahi ini, selain tentunya kebaikan yang mustinya kita torehkan di sini.. bukannya berbuat zalim dan menyengsarakan umat yang lain. Meski di atas kezaliman barangkali kita memperoleh kenikmatan dunia.. popularitas, kekayaan, kedudukan, atau kekuasaan, tapi apalah artinya jika ketenangan batin dan jiwa tak kita dapatkan.

Legowo berarti juga berani mendudukan setiap perkara pada tempatnya. Apapun dan di mana pun tempat itu berada, sikap legowo selalu bernilai luhur.. Meski tampuk kekuasaan dan kedudukan tinggi tak lagi dipegang, namun sikap legowo selalu menaruh seseorang pada posisi luhur sebagai manusia yang arif dan bijaksana..

Semoga kepasrahan total pada Yang Maha Kuasa menghampiri sang Jenderal agar ketenangan batin dan jiwa senantiasa menaungi kehidupan beliau di dunia maupun di akherat kelak.. dan bangsa ini tumbuh menjadi bangsa yang arif dan bijaksana, menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan.. Semoga lekas sembuh Jenderal!

(*pic taken from here )


| -->non blogger

Sunday, December 02, 2007

Dinar Irak bakal melambung?

Belum lama ini ada rumor menyebutkan nilai dinar bakal melambung. Tak pelak, orang-orang yang doyan berinvestasi pada mata uang asing tergiur untuk ramai-ramai memborong mata uang Irak ini.

Slow down.. jangan buru-buru lah!!! This is absolutely such a big speculation. Koq bisa sih begitu saja yakin??!!! Coba lihat situasi dan kondisi Iraq sekarang ini? Bisa dibilang Iraq kini sedang di ambang “kehancuran”!! Situasi politik yang kacau balau, bom bertebaran di sana-sini, bagaimana mungkin situasi ekonominya bisa stabil?? Meskipun ada banyak tambang minyak di sana, tapi kalo system politik, pertahanan dan keamanannya kacau balau, teuteup aja ngga bisa menjamin!

Well, ok deh saya bukan ahli Ekonomi, tapi at least harus tau dong bahwa situasi politik, pertahanan dan keamanan suatu Negara sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi Negara tersebut, begitu juga terhadap nilai mata uangnya!

Kebetulan dalam kolom konsultasi Perencanaan Keuangan Keluarga yang diasuh Ahmad Gozali dari Biro Keuangan Safir Senduk di H.U. Republika, minggu ini, issue tersebut dibahas. Saya kutipkan di sini, semoga bermanfaat..

Pertanyaan:
1. Menurut Mas Gozali, apakah dinar Iraq akan betul-betul bisa mencapai 1 dinar Iraq = 1 dollar AS pada waktu mendatang, dengan melihat kondisi Iraq saat ini yang sedang dalam kondisi tidak menentu, namun potensi ekonomi dari minyak sangat besar.

2. Saya sebetulnya tertarik untuk membeli dinar. Bayangkan, andaikan 1 dinar Iraq bisa mencapai 1 dolar AS, betapa besar keuntungan yang akan diperoleh. Menurut Mas Gozali sendiri bagaimana?

Jawaban:
Memang betul, saat ini ada beberapa pihak yang gencar memasarkan penjualan mata uang dinar Iraq. Yang dimaksud dengan dinar Iraq ini adalah mata uang baru Negara Iraq sebagai pengganti mata uang dinar lama buatan pemerintahan Saddam Husein. Mata uang ini masih belum dipasarkan secara resmi di perdagangan mata uang internasional.

Saat ini pun nilainya masih sangat rendah, namun diklaim akan punya nilai yang sangat tinggi nantinya. Karena Negara Iraq sebetulnya punya potensi yang luar biasa dari hasil minyak bumi. Prediksi dari para penjual dinar Iraq itu adalah nilainya bisa melambung luar biasa naik ketika pemerintahan Iraq sudah stabil dan Iraq bisa mengekspor minyaknya ke luar negeri.

Begitulah yang disampaikan oleh para penjual dinar Iraq untuk menggaet calon konsumen yang akan membelinya. Namun, perlu saya pertegas bahwa nilai mata uang suatu negara bukan hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, tapi juga kondisi politiknya. Mungkin secara ekonomi, Iraq bisa kembali menjadi Negara kaya karena sumber minyaknya yang besar. Namun, secara politik, sumber minyak itu akan percuma saja jika negaranya masih dalam kondisi terjajah seperti sekarang ini.

Sehingga investasi ini tidak saya rekomendasikan, karena sangat besar unsur spekulasinya. Karena bisa saja pemerintah penjajah saat ini mengganti mata uangnya dengan mata uang lain, atau mungkin saja pemerintahan Iraq yang baru membuat mata uang baru lagi. Dan karena mata uang ini belum dijual secara resmi dalam perdagangan mata uang internasional, maka dapat dipastikan mata uang ini adalah ‘selundupan’ dan tidak ada yang bisa menjamin keasliannya.

Pada kenyataannya pun, yang sekarang ini banyak menjual mata uang dinar Iraq adalah para pedagang yang membeli murah, melempar isu agar harganya naik, lalu menjualnya lagi kepada orang lain. Mereka sendiri tidak berani menunggu lama sampai mata uang tersebut benar-benar tinggi nilainya setelah nanti resmi diperdagangkan.

| -->non blogger

Monday, July 02, 2007

Printed media is so old fashion??!!

Kehidupan di tengah pesatnya laju teknologi informasi, diakui atau tidak, membuat keberadaan media cetak cukup kelimpungan. Mampukah bisnis media yang satu ini bertahan melawan gencarnya kemajuan teknologi informasi?

Kini kita bisa mengakses info teraktual setiap saat lewat televisi, bahkan internet. Di rumah, di warnet, bahkan telepon selular. Beragam informasi dari yang usang hingga ter-up date begitu mudah didapat. Penasaran atau sekedar iseng kepengen tahu soal gosip selebritis, bisa ditonton dari subuh hingga malam lewat tayangan infotainment di setiap stasiun tv.

Juminten dari Gombong atau Esih dari kampung Naga pedalaman Tasik Malaya sana tahu siapa suami terbaru Titi Di Je, atau kisruh apa yang kini menimpa keluarga Cendana. Bahkan mereka juga sudah bisa melafalkan lagu berbahasa Inggris "Let's Dance Together" yang jadi soundtrack sinetron yang diperankan Cinta, artis remaja peranakan Indo-Jerman yang lagi naik daun itu.

Itulah kehebatan teknologi informasi, dari ujung Papua hingga Aceh sono bisa kebagian informasi yang beragam. Jika saat kecil dulu kita hanya tahu tokoh Unyil dari TVRI, kini ada beragam tokoh anak bertebaran di setiap stasiun tv, ada Elmo Sesame Street, Samurai X, si Barnie, Spongebob, Dora, Mono kurobo, dan lain-lain.. Atau, jika dulu kita hanya tahu kegiatan formal seorang tokoh politik, kini bisa meneropong kehidupan personalnya, bahkan skandalnya sekalipun.

Tak perlu nunggu koran atau majalah terbit esok hari, atau sekedar lari dulu ke kios depan buat beli koran.. nongkrong saja di depan layar tv atau komputer atau sekedar ngeklik menu HP yang ada di genggaman, maka info teraktual dari yang make sense hingga absurd dan terheboh sekali pun bisa cepat didapat. Orang yang malas membaca, bahkan yang buta huruf sekalipun takkan ketinggalan informasi..

Menarik bukan? Kita amat dimanjakan oleh ragam informasi dan hiburan setiap menit, bahkan detik! Tapi… bisa jadi getir!!

Kenapa??

Kita termasuk bangsa yang tingkat melek huruf-nya rendah, masyarakatnya banyak yang tak gemar membaca. Pastinya nonton tayangan yang lebih meriah dengan visualisasi yang lebih nyata akan jadi pilihan yang mengasyikan ketimbang baca media cetak!

So,
is printed media so old fashion??!!

| -->non blogger

Tuesday, June 12, 2007

Lahan Empuk Pebisnis

Oprah's Favorite Things merupakan salah satu episode "The Oprah Winprey Show" yang sempat bikin publik di Amrik sono bahkan penonton di segala penjuru dunia terperangah! Siapa yang tak terperangah tatkala sang pemandu acara menghadiahi masing-masing penonton di studio yang berjumlah 276 itu dengan sebuah mobil Pontiac G6s!!

Siapa sih yang tak kenal Oprah Winprey, wanita kulit hitam yang amat sukses dengan program talkshownya itu!! Lewat program itu, Oprah memang sering kali bagi-bagi hadiah. Selain para penonton yang dihadiahi mobil mewah itu tadi, Oprah juga pernah menghadiahi guru-guru di Amerika yang juga khusus diundang Oprah ke studionya dengan bejibun hadiah mewah; flat TV, mesin pengering baju yang canggih, baju-baju dan kosmetik bermerk, berlibur di salah satu Spa termewah di Amerika, dan banyak lagi!! Semua diberikan Oprah secara cuma-cuma!!

Itulah salah satu acara spektakuler “The Oprah Winprey Show” yang diberi judul Oprah’s Favorite Things! Bisa dibayangkan bagaimana antusiasme para penonton tersebut saat dihadiahi bejibun kado mahal. Begitu pun para penonton di luar studio termasuk saya ikut terpana melihat episode spektakuler garapan Oprah dan cs-nya itu. Si Oprah ini bener-bener kayak Santa ya, hobi betul bagi-bagi hadiah.

Kemurahan hati Oprah memang sudah sejak lama diketahui publik di samping kecerdasannya, dan saya yakin itu bukan imitasi, melainkan datang dari lubuk hati terdalamnya.. Mungkin itu juga salah satu sebabnya mengapa program talk show yang diasuhnya itu jadi acara terlaris hampir di seluruh dunia dan… tentu saja menuai sukses!!

Eits tapi tunggu dulu.. apa betul hadiah itu memang "cuma-cuma"??!! Siapa yang sebetulnya diuntungkan oleh acara itu, para penonton yang ketiban "durian runtuh", Oprah sekaligus program talk-shownya, atau sponsor??!! Tentu semua dapat untung, dan yang jelas sejak episode itu ditayangkan penjualan Pontiac melonjak amat drastis!!!

Begitulah perputaran uang di dunia bisnis entertainment begitu cepat meraup untung. Kredibilitas seseorang bisa jadi lahan empuk untuk mendulang rejeki, bahkan seorang artis 'kacangan' yang kebetulan melejit gara-gara kasus perselingkuhan panasnya yang bikin heboh pun bisa jadi "lahan" empuk!! Konon dengan modal hanya sekian juta rupiah, bisnis entertainment lewat acara infotainment bisa meraup untung miliaran rupiah bahkan bisa lebih lewat pemasukan iklan!!

Siapa "pembelinya"??!! Kita… Kitalah khalayak sekaligus konsumen yang jadi sasaran utama para pebisnis dalam meraup keuntungan yang bisa mencapai angka fantastis!! Para pebisnis tak peduli apakah kita akan jadi korban mode, pembantu rumah tangga menghabiskan 3 bulan gajinya untuk beli hp yang lebih canggih dari hp majikannya, pegawai kantoran bergaji 2 juta mengajukan kepemilikan kartu kredit lebih dari 5 lalu masuk bu'i karena tak mampu bayar tunggakan!! Bisnis adalah bisnis.. dan para pebisnis itu kebanyakan memang tak mau peduli, wong keuntungan fantastis yang mereka tuai!!

| -->non blogger

Sunday, May 27, 2007

Cinta..


"Love does not consist in gazing at each other, but in looking outward together in the same directions." Begitu Antoine de Saint-Exupery, Sastrawan Perancis menyimpulkan cinta.

Ada juga orang Perancis yang bilang, "L'amour n'est pas parce que mais malgre." Cinta itu bukan "karena", tapi "walaupun". Jadi kalau kita masih mempertanyakan untuk apa kita mencintai seseorang, artinya kita masih pada tahap pare que, tahap "karena". Kita belum sampai pada tahap "walaupun". Kata orang bijak, seseorang belum dapat dikatakan mencintai bila ia masih suka memperhitungkan atau mempertanyakan yang dicintainya.

Ada lagi menurut Goethe, katanya cinta itu punya kekuatan yang mampu merubah seseorang, "we are shaped and fashioned by what we love".

Lain lagi menurut kajian National Geographic yang pernah pula menggarap persoalan cinta. Kajian tsb menyebutkan bahwa cinta adalah sebuah reaksi kimia-biologi yang terjadi dalam tubuh yang tak ada kaitannya dengan masalah psikis.. Hati yang berbunga-bunga saat jatuh cinta adalah sebuah proses kimia yang terjadi dalam tubuh kita tatkala hormon dopamin dan serotonin diproduksi tubuh dengan kadar tinggi.. Jadi tatkala kedua senyawa kimia tsb tak lagi berkadar tinggi, kita takkan lagi merasakan sensasi cinta yang mendebarkan itu.

Lebih lanjut, sebuah penelitian menemukan bahwa sejenis tikus padang rumput mempunyai pola hubungan seks yang monogamy dan abadi. Mereka kawin dengan satu pasangan saja sepanjang hidup. Usut punya usut, ternyata tikus tsb mempunyai kadar senyawa oksitosin yang tinggi. Senyawa oksitosin ini lah yang menimbulkan perasaan keterikatan. Dan, tatkala si peneliti menghambat produksi oksitosin dalam tubuh tikus, si tikus pun bercerai dan berkelana.

Setiap orang bisa jadi punya definisi berbeda soal cinta, meski sensasinya pastilah sama-sama mendebarkan tatkala chemistry itu muncul, tapi.. kita keliru jika berharap cinta akan otomatis langgeng. Tanah suci sekali pun tak serta merta menjamin keutuhan cinta jika kita tak 'menggarap'nya dengan semestinya.. Kesakralan tanah suci mestinya bisa jadi tali yang kokoh jika saja kita menyadari cinta itu tak sekedar urusan perasaan, tapi juga butuh kesadaran, akal sehat, serta perlu terus belajar dan berlatih.

Simak komentar Sara Paddison dalam "HeartMath Discovery Program": Love is not automatic, it takes conscious practice and awareness, just like playing the piano or golf. However, you have ample opportunities to practice. Everyone you meet can be your practice session.

Well, practice makes perfect since it came to love..

GOOD LUCK, every one!

| -->non blogger