Sunday, March 15, 2009

Pilih-Pilih Teman?? Why Not??

Not everyone is an appropriate match. If there’s someone in your life who makes you feel bad about yourself, doesn’t share any of your interests or values, or is someone that you just don’t mesh well with, it’s perfectly acceptable to put that relationship on the back burner, let it fade away altogether, or not develop it in the first place. Even if you were at one time very close, people change and grow in different directions. It doesn’t mean there’s something ‘wrong’ with either of you, but if someone in your life is no longer good for you, it’s perfectly acceptable to let them go. (Conversely, if you’d like to keep them in your life out of loyalty, albeit in a periphery role, that’s okay, too. However, it would be beneficial to remember not to count on them for support, if they’re not able to give it to you.) Only you know if the relationship is worth keeping or not, but it’s important to have several people you can count on for support in your life.

Sunday, December 28, 2008

????!!!!

Monday, October 20, 2008

Afghanistan, Islam Radikal, dan Nick Danziger

..judul postingan kali ini mungkin kelewat 'wah'.. sebetulnya saya baru saja membaca kisah sejati dari majalah Femina edisi tahun 1999, tentang seorang wartawan foto kenamaan asal Inggris Nick Danziger yang mengadopsi anak-anak korban perang dari Afghanistan.


Dulu, Ibu saya berlangganan Femina sejak tahun 80-an hingga akhirnya berhenti berlangganan tahun 2003an.. Dan kami masih menyimpan tumpukan sisa-sisa majalah Femina yang tak kami jual atau berikan pada orang lain.. Biasanya kami membacanya kembali di saat-saat luang atau bahkan tidak sama sekali..



Dan, kisah sejati tentang tiga bocah malang Afghanistan yang diadopsi pria Inggris ini sebetulnya bukan pertama kalinya saya baca, hanya saja kali ini koq ada 'perhatian' lebih.. mungkin karena ingatan akan carut marutnya Afghanistan melekat cukup dalam setelah membaca novel "The Kite Runner" belum lama ini.. Perang saudara, terorisme, ledakan bom dan senjata api di mana-mana, kemiskinan, kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, fanatisme yang buta.. itulah beberapa kelumit cerita pahit tentang Afghanistan yang selama ini saya tahu baik dari novel, film, atau pun berita dari media massa.



Saya memang belum pernah menginjakkan kaki di tanah yang kini identik dengan sarang terorisme itu, tapi informasi yang saya dapat mengenai Afghanistan paling tidak membuka mata saya bahwa Islam radikal serta fanatisme buta itu memang ada dan menyengsarakan umat. Sungguh kontras dengan esensi Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, agama yang membawa rahmat dan keberkahan bagi seluruh umat..





Kembali saya hanyut dengan kisah pilu dari Afghanistan lewat kisah sejati Nick Danziger yang dikisahkan kembali oleh majalah Femina itu.. Sebagai wartawan foto, Nick Danziger telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk keliling dunia memotret berbagai kejadian penting dari segala penjuru dunia.. Tak tanggung-tanggung, tanah yang penuh dengan konflik peperangan pun ia jejaki, salah satunya Afghanistan..



Saat bertugas di tanah persembunyian Osama bin Laden itulah, Nick bertemu dengan tiga bocah malang asal setempat.. Mereka adalah kakak beradik Khadija dan Farishta, serta seorang anak laki-laki Satar.. Khadija dan Farishta adalah penghuni rumah penampungan anak-anak yatim piatu di Kabul. Kondisi penampungan itu amat memprihatinkan.. Bersama 14 anak lain yang usianya antara 2 sampai 12 tahun, mereka hidup berhimpitan di ruangan kecil. Kurang makanan dan obat-obatan. Di negeri yang sedang bergejolak karena peperangan itu juga lah mereka menghabiskan waktunya dalam ketakutan. Khadija dan Farishta harus berhenti sekolah saat menginjak usia 8 tahun, karena mereka perempuan. Sedangkan Satar tak bersekolah karena ia cacat folio.



Pertama kali Nick bertemu Khadija dan Farishta tahun 1989, waktu itu Khadija berusia 4 tahun dan Farishta 2,5 tahun. Tahun 1990, ketika Presiden Najibullah didukung Sovyet yang sedang berkuasa, Nick sempat membuat rumah singgah (dibantu Palang Merah Norwegia, Dalai Lama, dan Putri Sadruddin Aga Khan, serta masyarakat internasional yang terketuk hatinya) untuk anak-anak yatim piatu di sana. Nick mengusahakan sedemikian rupa agar rumah tersebut aman bagi anak-anak malang itu, karena peperangan di luar sana begitu menakutkan. Barulah kemudian Satar datang ke rumah itu diantar oleh seseorang, ia ditelantarkan ayahnya karena cacat. Ibunya meninggal ketika melahirkan adiknya.



Nick selalu kembali mengunjungi Afghanistan meski tak sedang bertugas. Meski lahir dan berkantor di Inggris, Nick yang saat itu masih lajang tak memiliki rumah di sana.. Setiap cuti, ia pun terbang ke Afghanistan mengunjungi anak-anak malang itu. Ia berusaha mencarikan orang tua asuh bagi mereka.. satu demi satu, anak-anak itu mendapatkan orang tua asuh.. tinggal Khadija, Farishta dan Satar yang belum memiliki orang tua. Mereka seperti anak-anak yang tidak diinginkan.. Nick pun berhenti mencarikan orang tua asuh bagi mereka, karena ia yang akan mengurusnya ditemani beberapa temannya dari Palang Merah Inggris.





Tahun pertama Nick hidup bersama ketiga anak itu, tak pernah terbayangkan olehnya suatu hari nanti ia akan mengadopsi mereka dan membawanya keluar dari Afghanistan. Nick tak pernah tinggal menetap di satu tempat, dirinya mengaku kurang punya rasa tanggung jawab terhadap orang lain, ia terbiasa hidup sendiri. Waktunya habis di luar negeri dan di atas pesawat terbang. Baru saja tiba di Kabul, ia sudah mendapat tugas ke Paris. Dari Paris, ia musti terbang ke Kurdhistan, lalu ke Guatemala. Tapi sejauh-jauhnya pergi, Nick selalu berkeinginan kembali ke Afghanistan untuk bertemu teman-temannya dan ketiga anak asuhnya itu.



Dua tahun kemudian, keadaan menjadi lebih buruk bagi Khadija, Farishta dan Satar.. Kelompok Mujahidin mengambil alih Kabul, masyarakat Afghanistan menjadi terpecah belah.. tembak menembak jadi pemandangan sehari-hari. Sepuluh ribu orang terbunuh dan terluka.. ratusan ribu penduduk mengungsi meninggalkan ibukota. Kelompok Mujahidin itu pun sempat mengobrak-abrik rumah Nick dan teman-temannya yang dulu aman menampung anak-anak malang itu. Hingga akhirnya diambil alih untuk dijadikan markas Mujahidin. Dan Ketiga anak malang itu pun harus kembali ke rumah lamanya, asrama yatim piatu yang menyedihkan itu. Mereka tinggal di sana selama 20 hari, beberapa kali menyaksikan peristiwa tragis di hadapan mata mereka sendiri; orang dibunuh dan disiksa, perempuan diperkosa.. dan seorang teman mereka yang buta ditembak karena berusaha melarikan diri..



Saat malam tiba, mereka hanya tidur dengan selimut tipis di tengah deru angin dingin yang berhembus hingga menembus tulang dari jendela yang ditutup plastik tipis karena kacanya pecah.. Tak ada lagi tawa ceria, mereka semakin pendiam.. setiap diajak bicara, yang keluar hanyalah mimpi-mimpi mereka.. Khadija ingin memiliki gaun yang indah dan boneka yang lucu, Farishta ingin memiliki kursi dan sebuah boneka, sedangkan Satar bercita-cita menjadi Dokter atau guru.. Nick tersentuh hatinya, dirinya tak tahan dengan penderitaan mereka. Tiba-tiba saja terbersit keinginannya untuk membawa mereka keluar dari peperangan itu.



Nick kemudian mendiskusikan keinginannya itu dengan orang tuanya di Inggris, teman-temannya yang orang Afghanistan, serta teman-teman sesama orang asing yang tinggal di Afghanistan. Upaya merealisasikan keinginannya itu tentu saja tak mudah.. maka Nick pun meminta pertolongan Presiden Afghanistan, Prof. Rabbani.. Gayung pun bersambut.. Prof. Rabbani menyambut baik keinginannya dan berjanji akan membantunya.



Maret 1995, Khadija, Farishta, dan Satar keluar dari rumah yatim piatu. Mereka masing-masing mendapat uang 10.000 ribu Afghanis yang hanya bisa membeli beberapa potong roti saja. Mereka pun tak membawa secuil pakaian kecuali yang mereka pakai..



Bulan September 1995, bersama sahabatnya yang bekerja di Palang Merah, Nick membawa ketiga anak malang itu berlibur ke Desa Panjshir, sebelah Utara Kabul.. Dua minggu kemudian Nick kembali ke Inggris. Ia belum bisa membawa serta ketiga anak itu, karena dokumennya belum selesai.. namun akhirnya penantian itu pun berakhir, Nick dapat membawa mereka keluar dari Afghanistan dibantu teman-temannya dari berbagai negara.. Nick memutuskan untuk tinggal bersama ketiga anak adopsinya itu di lingkungan yang tidak rasialis.. dan ia pun memilih menetap di Monaco sebagai Negara yang memenuhi semua kriterianya itu..



Di saat luang, kedua anak gadis itu senang berenang.. Farishta lebih senang berenang di laut daripada di kolam renang.. Saat pertama kali ketiga anak itu melihat laut, tiga pasang mata mereka tak lepas memandangnya.. Negeri mereka memang tidak berbatasan dengan laut.. Farishta bahkan sempat bertanya pada Nick dengan penuh antusias, "Daddy, siapa yang mendorong air laut itu sampai bergulung-gulung begitu?"



Begitulah kisah manis akhirnya dapat mereka rengkuh selepas dari jeratan Afghanistan melalui ketulusan hati Nick dibantu teman-temannya dari dunia Internasional.. Dan, setelah sekian lama melajang, kini Nick ternyata sudah menikah dan memiliki anak-anak biologisnya..





Terlihat di foto atas, Khadija (kiri) kini sudah dewasa.. (Foto yang saya lihat di majalah Femina yang saya baca itu, Khadija masih berumur 12 tahun)



Kisah pilu mereka berakhir, tapi Afghanistan masih carut marut.. Kelompok fundamentalis telah menggadaikan akal sehat, kedamaian dan kesejahteraan umat demi harga yang tidak sepadan.. Pada akhirnya carut marut Afghanistan hanya menjadi objek kepentingan pihak tertentu.


pics taken from : pic. 1, pic. 2, pic. 3, pic. 4


Friday, July 25, 2008

Gay, Lesbian, dan Posmodernisme



Posmodernisme adalah gerakan kebudayaan pada umumnya yang dicirikan oleh penentangan terhadap totalitarianisme dan universalisme, serta kecenderungannya ke arah keanekaragaman, ke arah melimpah-ruah dan tumpang-tindihnya berbagai citraan dan gaya, sehingga menimbulkan fragmentasi, kontradiksi dan pendangkalan makna kebudayaan.

Salah satu ciri posmodernisme adalah keberadaan gender yang tak lagi dibagi menjadi dua golongan; "wanita" dan "laki-laki", tetapi ada juga "gay", serta "lesbian". Fenomena tsb. kini makin kentara, bagaimana kaum homosexual memperjuangkan existensinya sebagai makhluk yang juga "normal" seperti halnya kaum dengan label "perempuan" dan "laki-laki".

Kaum homoseksual -yang dalam kebudayaan "formal" (kalo boleh saya bilang) dan juga perspektif agama apa pun dipandang sebagai anomaly dan "dosa"- kini makin gencar menuntut haknya untuk diperlakukan dan dipandang sama normalnya dengan kaum normal lainnya; "perempuan" dan "laki-laki". Tuntutan itu juga tak hanya disuarakan oleh kaum homoseksual saja, tapi juga oleh kaum heteroseksual baik "laki-laki" maupun "perempuan". Sebagian dari mereka yang notabene kaum heteroseksual turut memperjuangkan hak hidup kaum homoseksual untuk diperlakukan sama, tidak didiskriminasi.

Beberapa episode "The Oprah Winprey Show" misalnya, pernah menyajikan topik seputar homoseksual atau transgender.. bagaimana seorang ayah yang beralih gender menjadi seorang wanita, sehingga anak-anaknya kini tak lagi memiliki seorang Ibu, melainkan dua orang Ibu biologis.. Atau.. bagaimana perempuan-perempuan patah hati mendapati pengakuan kekasih hatinya -pria tampan dan macho- yang ternyata menyukai sesama jenis. Ada juga seorang Ibu yang mendapati putri kesayangannya yang saat beranjak remaja menyadari dirinya seorang lesbian, dan banyak lagi kisah homoseksual lainnya. Adapun Nate, pria tampan dan ramah yang ahli menata rumah yang kerap dijadikan nara sumbernya Oprah adalah juga seorang gay.

Oprah tentu saja menyajikan topik itu karena punya muatan kontroversial. Sesuatu yang kontroversial tentunya santapan lezat media massa. Tapi, ada apa di balik semua suguhan kontroversial itu selain untuk menaikkan rating dan mendulang duit?
Tentu suguhan tsb. merupakan salah satu cara menunjukkan pada khalayak akan keberadaan kaum homoseksual. Mereka exist loo! Lalu, sikap dan tindakan seperti apa menghadapi realitas ini? Tentulah musti arif dan bijaksana ditinjau dari berbagai perspektif bukan?

Kebudayaan bisa jadi memang bisa dicampur-aduk, tumpang-tindih, direka-reka, berubah dari waktu ke waktu. Mengutip tulisannya Yasraf Amir Pilliang, bahwa riuh rendah euphoria budaya yang ditawarkan dunia baru tsb, warna-warni citraan yang disuguhkannya... Dunia baru ini tak ubahnya seperti hologram raksasa, yang menyuguhkan jutaan warna dan jutaan citra yang tampak nyata…

Tuesday, June 03, 2008

why don't we..

Ebony And Ivory Live Together In Perfect Harmony
Side By Side On My Piano Keyboard, Oh Lord, Why Don't We?

We All Know That People Are The Same Where Ever You Go
There Is Good And Bad In Ev'ryone,
We Learn To Live, We Learn To Give Each Other
What We Need To Survive Together Alive.

Ebony And Ivory Live Together In Perfect Harmony
Side By Side On My Piano Keyboard, Oh Lord Why Don't We?
Ebony, Ivory Living In Perfect Harmony
Ebony, Ivory, Ooh

Sunday, June 01, 2008

Ketika Tendangan Maut dan Bogem Mentah FPI Membabi Buta..

Lagi-lagi kekerasan…

Tak ada yang lebih memprihatinkan dari sebuah aksi penyerangan yang sarat dengan kekerasan dilakukan oleh sebuah ormas yang mengatasnamakan Islam. Sungguh sungguh memprihatinkan menyaksikan bagaimana para anggota Front Pembela Islam melancarkan kekerasan terhadap para anggota Aliansi Kebebasan Beragama. Islam sebagai agama yang sangat menjunjung tinggi perdamaian, toleransi, dan perbedaan, digunakan sebagai penjustifikasian terhadap aksi brutalisme menyerang pihak yang tidak sepaham.

Bukankah Al-Quran menyerukan untuk tidak memaksa orang dalam urusan agama dan bahkan lebih mengutamakan sikap hormat dalam kehidupan beragama:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Q.S. 49:13

Seterdesak apakah gerangan para anggota FPI sehingga harus melakukan penyerangan yang sarat dengan kekerasan dan brutal seperti itu? Sungguh saya tidak menemukan alasan yang masuk akal di balik penyerangan brutal itu.

Muhammad sebagai Nabi junjungan umat Muslim di seluruh jagat raya tak pernah memberi ‘teladan’ seperti itu. Berkenaan dengan pluralisme, Nabi bersikap dengan suatu penghormatan kepada sesama seperti yang diperintahkan Tuhan. Sikap penghormatan itu didasarkan pada hubungan saling mengenal yang bersifat egaliter, hubungan yang bersifat horizontal dan setara. Hanya Tuhan yang mengetahui apa yang tersimpan di hati seseorang dan seberapa dalam kesalehan seseorang. (Tariq Ramadan)

Seperti halnya dengan tradisi spiritual dan keagamaan, seruan untuk bertemu, berbagi, dan hidup bersama harus selalu didasarkan pada tiga persyaratan berikut: berusaha mengenal satu sama lain, tetap bersikap tulus dan jujur selama bertemu dan berdebat, dan akhirnya, berusaha rendah hati menyangkut klaim kebenaran masing-masing. Itulah ajaran Nabi dalam berhubungan dengan orang-orang beriman dari agama lain. Ada pun argumentasi yang diketengahkan Nabi dilandasi oleh pengetahuan, ketulusan, dan kerendah hatian, yang menjadi tiga syarat penghormatan. (Tariq Ramadan)

Begitulah suasana co-exist tercipta di zaman Rasul. Perbedaan bukan dihadapi dengan aksi-aksi menyerang secara brutal dan tidak manusiawi.

Sungguh teramat memprihatinkan aksi kekerasan dan brutal semacam itu dilakukan atas nama Islam! Allah SWT tidak memerlukan “pembelaan” brutal seperti itu!

Thursday, May 29, 2008

Mahasiswa atau Preman???!!

Sebagai salah satu aksi demo menolak kenaikan BBM, gerombolan mahasiswa menyetop kendaraan plat merah yang kebetulan lewat di hadapan mereka. Beberapa di antaranya menaiki kap mobil, lalu menginjak-injak dan memukul-mukul badan mobil nahas itu sambil berteriak-teriak. Tak cukup begitu aksi corat-coret pun dilancarkan mereka tak kalah beringasnya. Mobil yang dibeli dengan duit rakyat itu pun kini bergrafity. Tulisan “milik rakyat” tertera di hampir seluruh badan mobil.

Seorang bocah lelaki yang kebetulan berada di dalam mobil tsb. terlihat begitu shock dan ketakutan menyaksikan kakak-kakak mahasiswa (atau preman?) itu beraksi. Bocah itu duduk di depan, di samping pengemudi mobil, dengan sangat jelas ia melihat bagaimana kakak-kakak mahasiswa (atau preman?) itu melancarkan aksi premanisme-nya. Sang bocah hanya diam dalam ketakutannya yang amat sangat, mungkin ia berharap ‘mimpi buruk’ itu segera berakhir. Begitu pun dengan sang pengemudi, ia hanya diam dengan raut wajah menahan takut.

Demo pasca BBM naik yang dilancarkan mahasiswa (atau preman?) kerap diberitakan di berbagai media. Alih-alih antusias menyimak, malah makin bikin muak. Gatal rasanya jemari ini untuk segera memindahkan channel ke acara lain yang tidak sedang menyuguhkan berita seputar “wacky crazy actions” para mahasiswa (atau preman?) itu.
Kenaikan BBM sudah amat menyesakkan, kini aksi demo premanisme yang dilancarkan mahasiswa (atau premaan?) makin bikin perut mual. Apa gerangan yang ada di kepala mahasiswa-mahasiswa (atau premaaannn?) itu???!!! Jujur, bahkan sebetulnya saya enggan menyebut mereka “mahasiswa”.

Lhaa.. “mahasiswa” koq begitu?

Setahu saya, saat jadi mahasiswa dulu, ada banyak bahan bacaan yang membuat kita merenungkan kehidupan ini, salah satunya menghindarkan diri dari kebodohan yang menyulut aksi premanisme yang menyengsarakan sesama umat manusia lainnya (yang nyata-nyata ngga berdosa). Ilmu itu sarat dengan etika dan moral koq.. lha perguruan tinggi itu kan gudangnya ilmu toh? Nah kalo liat mahasiswa bertindak ala preman seperti itu?? Apa lembaganya yang musti dipertanyakan? Di mana integritas tempat bernama “perguruan tinggi” itu?? Hellloooo??!!!

Ngapain sekolah tinggi-tinggi kalo hanya menghasilkan tindakan-tindakan brutal macam preman seperti itu. Kalo cuma bisa berdemo ala premanisme macam begitu sih ngga perlu sekolah tinggi-tinggi, preman kelas teri yang biasa malak di stasiun-stasiun juga bisa.. ngga perlu mengecap bangku kuliah.. Lagipula apa bedanya yang didemo dengan yang mendemo kalo sama-sama menyengsarakan umat.

Mbok ya para mahasiswa berdemolah dengan cerdas, pake akal sehat bukan dengkul.. Kalo sekedar pamer aksi premanisme begitu doang, trust me, kalian hanya buang-buang duit (ortu) aja.. Toh, bukan rahasia umum koq selulus kuliah nyari kerja itu bisa jadi ngga gampang, tapi ngga lantas kalian jadi ‘keledai’ koq.. Kalo pun nantinya jadi pengangguran sesaat, tapi ketika moral dan etika masih bersemayam dalam diri kalian, seorang pejabat dengan pangkat tinggi sekali pun kalo dia korup maka ia tak lebih dari cecunguk yang siap ‘diinjak-injak’ (tanpa perlu diinjak beneran) kaki siapa saja, bahkan kaki seorang pengangguran yang ngga pernah berhenti berusaha..

Kamu mahasiswa bukan sih???!!!!